Posted on Updated on

TEKNIK PENGUMPULAN DATA DAN INSTRUMEN PENELITIAN
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas :
Mata Kuliah : Metodologi Penelitian
Dosen Pengampu: Maskhur, M.Ag.

Oleh:
Khoirun nisa (2021113202)
Nur Fuaidah (2021113206)
Irma Ayu Purnami (2021113209)
Fuad Amin Rosyadi (2021113237)
Rahmatul Khusna (2021113239)
Khoirul Umam (2021113246)
Urip Puji Astuti (2021113260)
Hepi Rahmawati (2021113265)
Indah Nur Baeti (2021113270)

Kelas: PAI C

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Penelitian dilakukan karena pengetahuan, pemahaman dan kemampuan manusia yang terbatas akan suatu hal serta besarnya rasa ingin tahu manusia yang menyebabkan timbulnya pertanyaan-pertanyaan dan ketidakpuasan akan apa yang telah dimiliki dan diketahui oleh manusia. Oleh sebab itu, muncullah penelitian-penelitian terbaru akan suatu hal. Hal ini dilakukan untuk memenuhi rasa ingin tahu dan ketidak puasan manusia.
Dalam menyusun sebuah laporan penelitian, seorang peneliti membutuhkan alat bantu yang digunakan sebagai alat atau instrumen penelitiannya. Serta membutuhkan data-data yang valid guna mendukung hasil dari penelitian tersebut. Oleh karena itu, seorang peneliti harus mengetahui dan memahami apa itu pengumpulan data, instrumen penelitian, teknik-teknik pengumpulan data serta skala pengukuran data.Menyusun instrumen pengumpulan data dan penelitian dilakukan setelah peneliti memahami apa yang menjadi variabel penelitiannya. Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Dengan demikian jumlah instrumen yang akan digunakan untuk penelitian akan tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Karena instrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data yang akurat, maka setiap instrumen harus mempunyai skala pengukurannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Teknik Pengumpulan Data?
2. Apa Saja Jenis-jenis Teknik Pengumpulan Data?
3. Apa yang Dimaksud dengan Instrumen Penelitian dan Apa Saja yang Perlu Diperhatikan?
4. Apa yang Dimaksud dengan Skala Pengukuran dan Apa Saja Macamnya?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Teknik Pengumpulan Data
Data (dantum) artinya sesuatu yang diketahui. Dan sekarang data diartikan sebagai informasi yang diterimanya tentang suatu kenyataan atau fenomena empiris, wujudnya dapat merupakan seperangkat ukuran (kuantitatif, berupa angka-angka) atau berupa ungkapan kata-kata (verbalize) atau kualitatif.
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, pengertian pengumpulan data adalah proses, cara, perbuatan mengumpulkan, atau menghimpun data. Sedangkan teknik pengumpulan data merupakan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Secara umumnya, dalam pengumpulan data dapat menggunakan beberapa teknik, yaitu:
1. Pengamatan (Observasi)
Merupakan teknik pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap objek penelitian yang dapat dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung.Petunjuk penting yang harus diperhatikan oleh peneliti dalam menggunakan teknik observasi menurut Rummel adalah sebagai berikut:
a) Pengetahuan yang cukup mengenai objek yang akan diteliti.
b) Menyelidiki tujuan-tujuan umum dan khusus dari masalah-masalah penelitian untuk menentukan masalah sesuatu yang harus diobservasi.
c) Menentukan cara dan alat yang dipergunakan dalam observasi.
d) Menentukan kategori gejala yang diamati untuk memperjelas ciri-ciri setiap kategori.
e) Melakukan pengamatan dan pencatatan dengan kritis dan detail agar tidak ada gejala yang lepas dari pengamatan.
f) Pencatatan setiap gejala harus dilakukan secara terpisah agar tidak saling mempengaruhi.
g) Menyiapkan secara baik alat-alat pencatatan dan cara melakukan pencatatan terhadap hasil observasi.
Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1) Observasi berperan serta (Participant observation)
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Dengan observasi ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, bahkan dapat sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak.
2) Observasi Nonpartisipan
Dalam observasi ini, peneliti tidak terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian dan hanya sebagai pengamat independen.
Selanjutnya, jika dilihat dari segi instrumentasi yang digunakan, maka observasi dapat dibedakan menjadi dua macam pula, yaitu:
1) Observasi terstruktur
Adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan, dan dimana tempatnya. Dalam melakukan pengamatan peneliti menggunakan instrumen penelitian yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya.
2) Observasi tidak terstruktur
Adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan. Misalnya, dalam suatu pameran produk industri dari berbagai negara, peneliti belum tahu pasti apa yang akan diamati. Oleh karena itu, peneliti dapat melakukan pengamatan secara bebas, mencatat apa yang menarik, melakukan analisis dan kemudian dibuat kesimpulan.
Menurut Sradley, tahapan dalam observasi adalah sebagai berikut:

2. Angket (Kuesioner)
Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan memberikan atau menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden dengan harapan memberikan respon atas daftar pertanyaan tersebut.
Terdapat empat komponen inti dari sebuah kuesioner, yaitu:
a) Adanya subyek, ialah individu atau lembaga yang melakukan penelitian.
b) Adanya ajakan, ialah permohonan dari peneliti kepada responden untuk turut serta mengisi atau menjawab pertanyaan secara objektif.
c) Adanya petunjuk pengisian kuesioner, dimana petunjuk yang tersedia harus mudah dimengerti dan tidak bias (mempunyai persepsi yang bermacam-macam).
d) Adanya pertanyaan atau pernyataan beserta tempat untuk mengisi jawaban, baik secara tertulis maupun terbuka. Dalam membuat kuesioner harus ada identitas responden (nama responden dapat tidak dicantumkan).
Menurut Uma Sekaran, terdapat beberapa prinsip dalam penulisan angket sebagai teknik pengumpulan data, yaitu:
a) Isi dan tujuan pertanyaan
Yang dimaksud adalah apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk pengukuran atau bukan. Kalau berbentuk pengukuran maka dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus skala pengukuran dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur variabel yang diteliti.
b) Bahasa yang digunakan
Bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan kemampuan berbahasa respondennya.
c) Tipe dan bentuk pertanyaan
Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka atau tertutup, dan bentuknya dapat berupa kalimat positif dan negatif.
d) Pertanyaan tidak mendua
Pertanyaan dalam angket jangan mendua (double-barreled) sehingga akan menyulitkan responden untuk memberikan jawaban. Contoh:
Bagaimana pendapat anda tenteng kualitas dan kecepatan pelayanan KTP? Ini adalah pertanyaan yang mendua, karena menanyakan dua hal sekaligus. Sebaiknya pertanyaan tersebut dijadikan menjadi dua, yaitu: Bagaimanakah kualitas pelayanan KTP? Bagaimanakah kecepatan pelayanan KTP?
e) Tidak menanyakan yang sudah lupa
Setiap pertanyaan dalam instrumen angket, sebaiknya juga tidak menanyakan hal-hal yang sekiranya responden sudah lupa, atau pertanyaan yang memerlukan jawaban dengan berfikir berat.

f) Pertanyaan tidak menggiring
Pertanyaan dalam angket sebaiknya juga tidak menggiring ke jawaban yang baik saja atau ke yang tidak baik saja.Contoh:Bagaimanakah kalau bonus atas jasa pelayanan ditingkatkan? Jawaban responden tentu cenderung akan setuju.
g) Panjang pertanyaan
h) Urutan pertanyaan
Urutan pertanyaan dalam angket, dimulai dari yang umum menuju ke hal yang spesifik, atau dari yang mudah menuju ke hal yang sulit, atau diacak. Hal ini perlu dipertimbangkan karena secara psikologis akan mempengaruhi semangat responden untuk menjawabnya.
i) Prinsip pengukuran
Angket yang diberikan kepada responden merupakan instrumen penelitian yang digunakan untuk mengkur variabel yang akan diteliti. Oleh karena itu, instrumen angket tersebut harus dapat digunakan untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel tentang variabel yang diukur.
j) Penampilan fisik angket.
Jenis-jenis Angket
a. Angket menurut jawaban yang diinginkan
Angket dibagi menurut sifat jawaban yang diinginkan:
1) Angket Tertutup
Angket tertutup terdiri atas pertanyaan atau pernyataan dengan sejumlah jawaban tertentu sebagai pilihan. Responden mengecek jawaban yang paling sesuai dengan pendiriannya.
Angket bentuk serupa ini dipilih bila peneliti cukup menguasai materi yang akan ditanyakan. Selain itu dianggap bahwa responden juga cukup mengetahuinya, sehingga dapat mengantisipasi jawaban-jawaban yang dapat diberikan dalam angket sebagai alat pengukur sikap misalnya, yang menunjukkan gradasi inteensitas sikap.
Angket sebagai alat ukur selalu bersifat tertutup.
Contoh:
– Setujukah saudara penggunaan hukuman jasmani dalam pendidikan?
ya- tidak
2) Angket Terbuka
Angket ini memberi kesempatan penuh memberi jawaban menurut apa yang dirasa perlu oleh responden. Peneliti hanya memberikan sejumlah pertanyaan berkenaan dengan masalah penelitian dan meminta responden menguraikan pendapat atau pendiriannya dengan panjang lebar bila diinginkan.
Contoh:
– Hukuman apakah yang paling sering saudara berikan?
3) Kombinasi Angket Terbuka dan Angket Tertutup
Banyak angket yang menggunakan kedua macam angket ini sekaligus. Di samping angket yang tertutup yang mempunyai sejumlah jawaban ditambah alternatif terbuka yang memberi kesempatan kepada respendon memberi jawaban di samping atau di luar jawaban yang tersedia.
Contoh:
Yang pernah digunakan oleh dosen ialah alat pengajaran:
– Gambar – radio
– Film – televisi
– Overhead projektor – diagram
b. Jenis Angket Menurut Administrasinya
Angket dapat juga dibedakan menurut cara admonistrasinya yaitu:
1) Angket Kiriman dengan Pos
Angket dapat dikirim per pos kepada sampel yang telah dipilih, dengan permintaan agar dikembalikan setelah diisi dalam amplop yang telah disediakan lengkap dengan alamat dan perangko disertai instruksi tentang cara mengisinya.

2) Angket yang Diisi di Hadapan Peneliti
Angket dapat diisi oleh responden dalam kehadiran peneliti atau asistennya. Angket dapat diisi oleh siswa-siswa dalam satu kelas, dapat pula diisi di rumah responden atau tempat lain yang ditentukan, sambilditunggu peneliti sampai selesai diisi. Dapat pula angket dibagikan kepada sejumlah responden, misalnya pegawai kantor untuk diisi di rumah msing-masing dan dikumpulkan esok harinya. Dengan cara ini dapat diharapkan bahwa angket itu dikembalikan setelah diisi.

3. Wawancara (Interview)
Wawancara (interview) merupakan pertemuan dua pihak untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Selanjutnya, Susan Stainback (1988) mengemukakan bahwa dengan wawancara, maka peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi, dimana hal ini tidak bisa ditemukan melalui observasi.
Sutrisno Hadi mengemukakan bahwa hal-hal yang perlu dipegang oleh peneliti dalam menggunakan teknik interview dan kuesioner adalah sebagai berikut:
a) Bahwa yang menjadi responden adalah orang yang paling tahu.
b) Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya.
c) Bahwa interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksud oleh peneliti.
Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi arus informasi dalam wawancara,yaitu: pewawancara, responden, pedoman wawancara, dan situasi wawancara.
a. Pewawancara
Pewawancara adalah petugas pengumpul informasi yang diharapkan dapat menyampaikan pertanyaan dengan jelas dan merangsang responden untuk menjawab semua pertanyaan dan mencatat semua informasi yang dibutuhkan dengan benar.
Beberapa karakteristik yang perlu dimiliki pewawancara:
1) Kemampuan dan keterampilan mewawancarai sumber informasi.
2) Kemampuan memahami dan menerima serta merekam hasil wawancara yang telah dilakukan.
3) Karakteristik sosial pewawancara.
4) Rasa percaya diri dan motivasi yang tinggi.
5) Rasa aman yang dimiliki.
b. Responden
Responden adalah pemberi informasi yang diharapkan dapat menjawab semua pertanyaan dengan jelas dan lengkap. Dalam pelaksanaan wawancara, diperlukan kesediaan dari responden untuk menjawab pertanyaan dan keselarasan antara responden dan pewawancara.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari sumber informasi (responden) yaitu:
1) Kemampuan memahami/menangkap pertanyaan dan mengolah jawaban dari pertanyaan yang diajukan pewawancara.
2) Karakteristik sosial (sikap, penampilan, relasi/hubungan) sumber informasi.
3) Kemampuan untuk menyatakan pendapat.
4) Rasa aman dan percaya diri.
c. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara berisi tentang uraian penelitian yang biasanya dituangkaan dalam bentuk daftar pertanyaan agar proses wawancara dapat berjalan dengan baik.
Di antara faktor-faktor yang penting dipahami dalam isi/materi pertanyaan yaitu:
1) Tingkat kesulitan materi yang ditanyakan.
Materi pertanyaan hendaklah dalam ruang lingkup kemampuan sumber informasi.
2) Kesensitifan materi pertanyaan.
Peneliti hendaklah menyadari hal-hal yang menyangkut moral, agama, ras, atau kedirian tiap sumber informasi yang selalu mengundang subjektivitas, keengganan, atau kepenolakan untuk memberi jawaban.
d. Situasi Wawancara
Situasi wawancara ini berhubungan dengan waktu dan tempat wawancara. Waktu dan tempat wawancara yang tidak tepat dapat menjadikan pewawancara merasa canggung untuk mewawancarai dan responden pun merasa enggan untuk menjawab pertanyaan.
Dalam situasi wawancara, sekurang-kurangnya ada empat kondisi yang perlu diperhatikan, yaitu:
1) Waktu pelaksanaan
2) Tempat pelaksanaan
3) Keadaan lingkungan pada waktu wawancara
4) Sikap masyarakat

Esterberg (2002) mengemukakan beberapa macam wawancara, yaitu wawancara terstruktur, semiterstruktur, dan tidak terstruktur.
a. Wawancara terstruktur (structured interview)
Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan.
b. Wawancara semiterstruktur (semistructure interview)
Jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in-dept interview, di mana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan lebih terbuka, di mana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat dan ide-idenya.
c. Wawancara tak berstruktur (unstructured interview)
Wawancara tak berstruktur adalah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpilan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.
Supaya hasil wawancara dapat terekam dengan baik, dan peneliti memiliki bukti telah melakukan wawancara kepada informan atau sumber data, maka diperlukan bantuan alat-alat sebagai berikut.
(1) Buku catatan: berfungsi untuk mencatat semua percakapan dengan sumber data.
(2) Tape recorder: berfungsi untuk merekam semua percakapan atau pembicaraan.
(3) Camera: untuk memotret kalau peneliti sedang melakukan pembicaraan dengan informan/sumber data.

Wawancara sebagai salah satu teknik dalam pengumpulan data akan lebih efektif apabila sebelum melakukan wawancara terlebih dahulu disusun secara sistematis materi yang akan ditanyakan.
a. Melakukan studi literatur untuk memahami dan menjernihkan masalah secara tuntas.
1) Menentukan “domain” yang mewakili masalah yang sebenarnya.
2) Mengidentifikasi sampel secara lebih terperinci, termasuk dalam hal ini alamat sumber informasi serta identitas lainnya.
3) Menentukan tipe wawancara yang akan digunakan.
b. Menentukan bentuk pertanyaan wawancara.
1) Apakah menggunakan bentuk langsung atau tidak langssung.
2) Apakah khusus atau tidak khusus
3) Apakah yang ditanyakan fakta atau pendapat.
4) Apakah berupa pertanyaan atau pernyataan.
c. Menentukan isi pertanyaan wawancara.
1) nyatakan pertanyaan dalam alasan yang jelas.
2) mulai dari pertanyaan fakta dan sederhana.
3) pertanyaan yang kompleks, tunda sampai kegiatan akhir.
4) setelah urutan ditentukan gunakan bahan yang tidak meragukan dalam bentuk yang khusus sehungga dapat dipahami sumber informasi.
5) pewawancara jangan mencoba berkomunikasi sebagai responden, karena akan mengurangi rasa hormat dari sumber informasi.
6) hindari pertanyaan yang membimbing, yang menyarankan sumber infornasi memberikan jawaban sesuai dengan yang diharapkan pewawancara.
4. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life historis), ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-lain.
5. Triangulasi
Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data.
Triangulasi teknik, berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak. Triangulasi sumber berarti, untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama.
6. Tes
Tes adalah suatu cara mengumpulkan data dengan memberikan tes kepada objek yang diteliti. Ada tes dengan pertanyaan yang disediakan pilihan jawaban, ada juga tes dengan pertanyaan tanpa pilihan jawaban (bersifat terbuka). Berdasarkan jawaban yang diberikan ditentukan nilai masing-masing pertanyaan sehingga dapat dipakai untuk mengukur karakteristik tertentu dari objek yang diteliti. ada beberapa macam tes yaitu,tes kecerdasan dan bakat, tes kepribadian, tes sikap, tes tentang nilai, dan tes prestasi belajar.
Pengertian tes sebagai metode pengumpulan data adalah serentetan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, sikap, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Berdasarkan sarana atau objek yang akan dievaluasi, test dan alat ukur dapat dibedakan menjadi:
a. Tes kepribadian (personality test), untuk mengukur kreativitas, disiplin, kemampuan khusus dan sebagainya.
b. Tes bakat (aptitude test), untuk mengukur bakat seseorang.
c. Tes intelegensi (intelligence test), untuk mengukur pikiran terhadap tingkat intelektual seseorang.
d. Tes sikap (attitude test), untuk mengukur sikap seseorang.
e. Tes minat (interest test), untuk mengukur minat seseorang terhadap sesuatu.
f. Tes prestasi (achievement test), untuk mengukur pencapaian keberhasilan seseorang setelah mempelajari sesuatu.

B. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah nafas dari penelitian oleh karena itu Menurut Arikunto, Instrumen penelitian merupakan sesuatu yang terpenting dan strategis kedudukannya di dalam keseluruhan kegiatan penelitian. Instrumen penelitian merupakan alat bantu peneliti dalam pengumpulan data. Mutu instrumen akan menentukan juga mutu daripada data yang dikumpulkan, sehingga tepatlah dikatakan bahwa hubungan instrumen dengan data adalah sebagai jantungnya penelitian yang saling terkait.
Menyusun instrument merupakan langkah penting dalam pola prosedur penelitian. Instrument berfungsi sebagai alat bantu dalam pengumpulan dan pengolahan data tentang variabel-variabel yang diteliti. Bentuk instrument berkaitan dengan teknik pengumpulan data yang digunakan. Oleh karena itu, secara tidak langsung instrument penelitian akan menyesuaikan dengan teknik penelitiannya. Secara garis besar, instrument terbagi menjadi dua, yaitu instrumen tes dan instrumen nontes. Instrumen yang berbentuk tes, ada tes objektif dan tes uraian, sedangkan instrument yang tergolong nontes disesuaikan dengan teknik pengumpulan datanya diantaranya berupa angket, wawancara, observasi dan lain-lain.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan peneliti dalam menyusun butir-butir instrumen penelitian untuk mengumpulkan data, sekurang-kurangnya peneliti harus memerhatikan dan mempertimbangkan dua pihak, yaitu sebagai berikut:
a. Pihak responden yang meliputi:
1) Daya tangkap responden terhadap sajian-sajian butir pertanyaan, usia, latar belakang pendidikan, latar belakang kehidupan sosial ekonomi, dan sebagainya.
2) Kesibukan responden: pekerjaan, keadaan sosial ekonomi yang memengaruhi banyak sedikitnya waktu yang tersedia untuk menjawab pertanyaan atau mengisi angket.
b. Pihak peneliti, yang meliputi:
1) Variabel yang diungkap: angket, daftar cocok, pedoman, atau tes.
2) Tersedianya tenaga, waktu, dan dana yang dimiliki pada peneliti.
3) Teknik pengujian reliabilitas yang akan dipilih.
Ada beberapa langkah umum yang biasa ditempuh dalam menyusun instrumen penelitian. Langkah-langkah tersebut anatara lain sebagai berikut:
1) Analisis variabel penelitian, yakni mengkaji variabel menjadi sub variabel dan indikator penelitian sejelas-jelasnya, sehingga indikator tersebut bisa diukur dan menghasilkan data yang diinginkan peneliti. Dalam membuat indikator variabel, peneliti dapat menggunakan teori atau konsep yang ada dalam pengetahuan ilmiah yang berkenaan dengan variabel tersebut, atau menggunakan fakta empiris berdasarkan pengamatan lapangan.
2) Menetapkan jenis instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel/sub variabel/indikator-indikatornya. Satu variabel mungkin bisa diukur oleh satu jenis instrumen, bisa pula lebih dari satu instrumen.
3) Setelah ditetapkan jenis instrumenya, peneliti menyususn kisi-kisi lay out instrumen. Kisi-kisi ini berisi lingkup materi pertanyaan, abilitas yang diukur, jenis pertanyaan, banyak pertanyaan, waktu yang dibutuhkan. Materi atau lingkup materi pertanyaan didasarkan dari indikator variabel. Artinya, setiap indikator akan menghasilkan beberapa lingkup pertanyaan, serta abilitas yang diukurnya. Abilitas yang dimaksud adalah kemampuan yang diharapkan dari subjek yang diteliti.
4) Berdasarkan kisi-kisi tersebut lalu peneliti menyusun iten atau pertanyaan sesuai dengan jenis instrumen dan jumlah yang telah ditetapkan sebagai item cadangan. Untuk setiap item yang dibuat peneliti harus sudah punya gambaran jawaban yang diharapkan. Artinya, perkiraan jawaban yang betul atau diinginkan harus dibuat peneliti.
5) Instrumen yang sudah dibuat sebaiknya diuji coba. Bertujuan untuk revisi instrumen, misalnya membuang instrumen yang tidak perlu, menggantinya dengan item yang baru, atau perbaikan isi dan redaksi atau tata bahasanya. Bagaimana uji coba validitas dan reliabilitasnya akan dibahas lebih lanjut.
Menurut Arikunto, penyusunan instrumen pengumpulan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi variabel-variabel dalam rumusan judul
2) Menjabarkan variabel tersebut menjadi sub variabel/dimensi
3) Mencari indikator/aspek dari setiap sub variabel
4) Menderetkan deskriptor dari setiap indikator
5) Merumuskan setiap deskriptor menjadi butir-butir instrumen
6) Melengkapi instrumen dengan petunjuk pengisian dan kata pengantar.

Langkah diatas dapat digambarkan secara skematis sebagai berikut:

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun instrumen penelitian, antara lain:
1) Masalah dan variabel yang diteliti termasuk indikator variabel, harus jelas spesifik sehingga dapat dengan mudah menetapkan jenis instrumen yang akan digunakan.
2) Sumber data atau sumber informasi, baik jumlah maupun keragamannyaharus diketahui terlebih dahulu, sebagai bahan atau dasar dalam menentukan isi, bahasa, sistematika item dalam instrumen penelitian.

Teknik dan Instrument Pengumpulan Data

N No. Jenis Teknik Jenis Instrumen
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Angket (questionnaire)

Wawancara (interview)

Pengamatan (observation)

Ujian atau tes (test)

Dokumentasi

Triangulasi
a. Angket (questionnaire)
b. Daftar Cocok (checklist)
c. Skala (skala)

a. Pedoman wawancara (interview guide)
b. Daftar cocok (checklist)

a. Lembar pengamatan
b. Panduan observasi
c. Daftar cocok (checklist)

a. Soal ujian (soal tes)
b. Inventori

a. Daftar dokumen

Disesuaikan dengan teknik pengumpulan datanya.

C. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
1. Validitas Instrumen
Sebelum peneliti menggunakan instrumen yang telah disusun untuk penggumpulan data, peneliti harus yakin bahwa instrumentnya adalah valid. Instrument yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Misalnya, meteran yang valid dapat digunakan untuk mengukur panjang dengan teliti, karena meteran merupakan alat untuk mengukur panjang. Meteran tersebut menjadi tidak valid jika digunakan untuk mengukur berat.
Makin tinggi validitas suatu instrument, makin baik instrument itu untuk digunakan. Ada beberapa cara pengujian validitas instrument yang akan digunakan untuk penelitian, yaitu:
a. Validitas Konstruksi (Construct Validity)
Untuk menguji validitas konstruksi, dapat digunakan pendapat dari para ahli atau mencari korelasi instrument dengan instrument lain yang telah diketahui validitasnya. Dalam hal ini setelah instrument dikonstruksikan tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu, maka selanjutnya dikonsultasikan dengan ahli.
Validitas Konstruksi lebih menekankan pada seberapa jauh instrument yang disusun itu terkait secara teoritis dalam mengukur konsep yang telah disusun oleh peneliti atau seberapa jauhkah konstruk atau trait psikologis itu diwakilkan secara nyata dalam instrument.
b. Validitas Isi (Content Validity)
Untuk instrument yang berbentuk test, pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrument dengan materi pelajaran yang telah diajarkan. Seorang dosen yang memberi ujian di luar pelajaran yang telah ditetapkan, berarti instrument ujian tersebut tidak mempunyai validitas isi. Untuk instrument yang akan mengukur efektivitas pelaksanaan program, maka pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrument dengan isi atau rancangan yang telah ditetapkan.
c. Validitas Eksternal
Validitas eksternal instrument diuji dengan cara membandingkan (untuk mencari kesamaan) antara kriteria yang ada pada instrument dengan fakta-fakta empiris yang terjadi di lapangan. Penelitian mempunyai validitas eksternal bila hasil penelitian dapat digeneralisasikan atau diterapkan pada sempel lain dalam populasi yang diteliti. Untuk meningkatkan validitas eksternal penelitian selain meningkatkan validitas eksternal instrument, maka dapat dilakukan dengan memperbesar jumlah sampel.
2. Reliabilitas Instrumen
Instrument yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.
Instrumen yang reliabel belum tentu valid. Misalnya, meteran yang putus dibagian ujungnya, bila digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang sama (reliabel) tetapi selalu tidak valid. Hal ini disebabkan karena instrumen (meteran) tersebut rusak.
Banyak faktor yang mempengaruhi reliabilitas instrumen, antara lain yaitu sebagai berikut:
a. Konstruksi butir (soal) yang tidak tepat, sehingga tidak dapat mempunyai daya pembeda yang kuat. Sering terjadi seorang murid yang mampu dalam kecakapan, tetapi karena konstruksi instrumen yang kurang tepat sehingga tidak dapat memberikan informasi yang benar.
b. Panjangnya suatu instrumen akan dapat menurunkan reliabilitas suatu instrumen. Instrumen yang panjang akan selalu membosankan, melelahkan, dan mengurangi perhatian. Akibat hal itu responden akan memberikan reaksi yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.
c. Penilaian yang subjektif pada waktu membuat scoring
Kelelahan dan kebosanan seorang peneliti dalam memberikan suatu instrumen atau pengadministrasian yang kurang tepat akan selalu memberikan pengaruh pada reliabilitas instrumen tersebut.
d. Ketidaktepatan waktu yang disediakan dalam menyelesaikan suatu instrumen.
e. Panjangnya instrumen yang dibeikan, makin panjang instrumen itu makin kurang telitilah dalam pengisiannya.
f. Penyebaran kelompok responden, makin besar perbedaan dalam suatu kelompok (umpamanya perbedaan umur) semakin baik hasilnya, demikian juga sebaliknya.
Pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan test-retest (stability), equivalent, dan gabungan keduanya. Secara internal reliabilitas instrumen dapat diuji dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen.
a. Test-retest
Instrumen penelitian yang reliabilitasnya diuji dengan test-retest dilakukan dengan cara mencobakan instrumen beberapa kali pada responden. Jadi, dalam hal ini instrumennya sama, dan waktunya yang berbeda. Reliabilitas diukur dari koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya. Bila koefisien korelasi positif dan signifikan maka instrumen tersebut sudah dinyatakan reliabel. Pengujian cara ini sering juga disebut stability.
b. Ekuivalen
Instrumen yang ekuivalenadalah pertanyaan yang secara bahasa berbeda, tetapi maksudnya sama. Sebagai contoh: Berapa tahun pengalaman kerja anda di lembaga ini? Pertanyaan tersebut dapat ekuivalen dengan pertanyaan berikut. Tahun berapa anda mulai bekerja di lembaga ini?
Pengujian reliabilitas instrumen dengan cara ini cukup dilakukan sekali, tetapi instrumennya dua, pada responden yang sama, waktu sama, instrumen berbeda. Reliabilitas instrumen dihitung dengan cara mengkorelasikan antara data instrumen yang satu dengan data instrumen yang dijadikan equivalent. Bila korelasi positif dan signifikan, instrumen dapat dinyatakan reliabel.
c. Gabungan
Pengujian reliabilitas ini dilakukan dengan cara mencobakan dua instrumen yang equivalent itu beberapa kali, ke responden yang sama. Jadi cara ini merupakan gabungan pertama dan kedua. Reliabilitas instrumen dilakukan dengan mengkorelasikan dua instrumen, setelah itu dikorelasikan pada pengujian kedua, dan selanjutnya dikorelasikan secara silang.
d. Internal Consistency
Pengujian reliabilitas dengan internal consistency, dilakukan dengan cara mencobakan instrumen sekali saja, kemudian data yang diperoleh dianalisis. Hasil analisis tersebut dapat digunakan untuk memprediksi reliabilitas instrumen.

D. Skala Pengukuran
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur sehingga alat ukur tersebut bisa digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Misal timbangan emas sebagai instrumen untuk mengukur berat emas, meteran sebagai instrumen untuk mengukur panjang dibuat dengan skala mm.
Macam-macam skala pengukuran yakni:
1. Skala nominal
Skala pengukuran nominal digunakan untuk mengklasifikasi objek, individual atau kelompok, sebagai contoh mengklasifikasi jenis kelamin, agama, pekerjaan dan area geografis.
2. Skala ordinal
Skala pengukuran ordinal memberikan informasi tentang jumlah relatif karakteristik berbeda yang dimiliki oleh objek atau individu tertentu. Tingkat pengukuran ini mempunyai informasi skala nominal ditambah dengan sarana peringkat relatif tertentu yang memberikan informasi apakah suatu objek memiliki karakteristik yang lebih atau kurang tetapi bukan berapa banyak kekurangan dan kelebihannya.
3. Skala interval
Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan skala ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa adanya interval yang tetap. Dengan demikian peneliti dapat melihat besarnya perbedaan karakteristik antara satu individu atau objek dengan lainnya. Skala pengukuran interval benar-benar merupakan angka.
4. Skala rasio
Skala pengukuran rasio mempunyai semua karakteristik yang dipunyai oleh skala nominal, skala ordinal dan skala interval. Dengan kelebihan skala ini mempunyai nilai nol empiris absolut. Nilai absolut nol tersebut terjadi pada saat ketidakhadirannya suatu karakteristik yang sedang diukur.
Perkembangan ilmu sosiologi dan psikologi, maka instrumen penelitian akan lebih menekankan pada pengukuran sikap yang menggunakan skala sikap. Adapun bentuk-bentuk skala sikap yang perlu diketahui dalam melakukan penelitian ada 5 macam yakni:
1. Skala likert
Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial.
Dengan menggunakan skala likert, maka variable yang akan diukur dijabarkan menjadi dimensi, dimensi dijabarkan sebagai sub variabel kemudian sub variabel dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator yang dapat diukur. Akhirnya indikator-indikator yang terukur ini dapat dijadikan titk tolak untuk membuat item instrumen yang berupa pertanyaan atau pernyataan yang perlu dijawab oleh responden.
2. Skala guttman
Skala guttman merupakan skala komulatif. Jika seseorang menyisakan pertanyaan yang berbobot lebih berat, ia akan mengiyakan pertanyaan yang kurang berbobot lainnya. Skala guttman mengukur suatu dimensi saja dari suatu variabel yang multidimensi. Pada skala guttman terdapat beberapa pertanyaan yang diurutkan secara hierarkis untuk melihat sikap tertentu seseorang.
Skala guttman ialah skala yang digunakan untuk jawaban yang bersifat jelas (tegas) dan konsisten.
3. Skala differensial semantik
Skala differensial semantik berisikan serangkaian karakterister bipoler (dua kutub) seperti panas-dingin.
Selain itu pada skala perbedaan semantik, responden diminta untuk menjawab atau memberikan penilaian terhadap suatu konsep atau onjek tertentu. Skala ini menunjukkan suatu keadaan yang saling bertentangan.
4. Skala rating scale
Rating scale yaitu kata mentah yang didapat berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Dalam model rating scale responden tidak akan menjawab dari data kualitatif yang sudah tersedia tersebut, tetapi menjawab salah satu dari jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Dengan demikian bentuk rating scale lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja, tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap gejala atau fenomena lainnya.
Pembuatan dan penyusunan instrumen dengan menggunakan rating scale yang penting harus dapat mengartikan atau mentafsirkan setiap angka yang diberikan dalam alternatif jawaban pada setiap item instrumen.
5. Skala thurstone
Skala thurstone meminta responden untuk memilih pertanyaan yang ia setujui dari beberapa pernyataan yang menyajikan pandangan yang berbeda-beda.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Pengumpulan data adalah proses, cara, perbuatan mengumpulkan, atau menghimpun data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Teknik pengumpulan data merupakan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Secara umumnya, dalam pengumpulan data dapat menggunakan beberapa teknik, antara lain yaitu: Observasi, wawancara, angket, dokumen, triangulasi dan test.
Instrumen penelitian merupakan alat bantu peneliti dalam pengumpulan data. Mutu instrumen akan menentukan juga mutu daripada data yang dikumpulkan, sehingga tepatlah dikatakan bahwa hubungan instrumen dengan data adalah sebagai jantungnya penelitian yang saling terkait. Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur sehingga alat ukur tersebut bisa digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.
B. Saran-saran
Penulis menyadari akan banyaknya kekurangan dalam makalah ini, baik dari ejaan tulisan, tata kalimat, tata bahasa maupun yang lainnya. Tetapi setidaknya penulis telah berusaha menguraikan maksud dari “Teknik Pengumpulan Data, Instrumen Penelitian dan Skala Pengukuran”. Oleh karena, itu banyaknya kekurangan dalam makalah ini, penulis mengharapkan adanya wujud apresiasi pembaca untuk memberikan koreksi dan masukan agar penulis mampu memperbaikinya, Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Nasution, S. 2012. Metode Research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: PT Bumi Aksara.
Noor, Juliansyah. 2011. Metodologi Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi, dan Karya Ilmiah. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
Riduwan. 2013. Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian. Bandung: Cv. Alfabeta.
Sarwono, Jonathan. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Subana, M dan Sudrajat. 2011. Dasar-dasar Penelitian Ilmiah. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Tanzeh, Ahmad. 2011. Metodologi Penelitian Praktis. Yogyakarta: Teras.
Yusuf, Muri. 2014. Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan. Jakarta: Prenadamedia Group.
Zuriah, Nurul. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s