Posted on

“ADAB MENCARI ILMU”
( QS. An-Nahl: 43 dan Al- Kahfi: 65-70 )
Disusun guna memenuhi tugas makalah:
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi II
Dosen Pengampu : M. Rodli, M. Pd.I

Disusun oleh:
Sugi Mulyani ( 2021113194 )
Khoirun Nisa ( 2021113202 )
Nur Fuaidah ( 2021113206 )

Kelas: PAI B

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015
BAB I
PNDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Allah memberikan peringatan kepada orang – orang musyrik, yang selalu berusaha membuat rencana dan tipu muslihat yang jahat dan menghalangi dakwah Islam, bahwa mereka tidak akan pernah merasa aman dari ancaman-ancaman Allah yang akan ditimpakan kepada mereka.
Allah menjelaskan betapa keras kepala dan ingkarnya orang-orang musyrik dan orang-orang kafir yang menolak seruan yang disampaikan Rasulullah SAW. Padahal, perumpamaan dan kisah orang- orang yang dibinasakan Allah karena pembangkangan mereka, banyak dipaparkan dalam Al-Qur’an. Pada ayat-ayat berikut ini, digambarkan betapa gigihnya hati Nabi Musa a.s. untuk mendapatkan kebenaran dan kedalaman ilmu.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Adab Mencari Ilmu yang Terkandung dalam QS. An-Nahl: 43 ?
2. Bagaimana Adab Mencari Ilmu yang Terkandung dalam QS. Al-Kahfi:65-70?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Surah An-Nahl Ayat 43
1. Ayat dan Terjemahan

                
43. “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu (Muhammad), kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka, Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”.

2. Mufrodat Qs. An-Nahl: 43

 : Sebelum kamu
 : Orang laki-laki
  : Ahli kitab (orang yang mengetahui)
  : Kalian tidak mengetahui.

3. Munasabah
Dalam ayat-ayat yang lalu menguraikan tentang keburukan ucapan dan perbuatan kaum musyrikin, serta pengingkaran mereka terhadap keesaan Allah swt, kerasulan nabi Muhammad Saw, dan menganiyaya Nabi dan pengikutnya sehingga mereka hijrah menyelamatkan diri. Hal ini menunjukkan bahwa kaum musyrikin tidak memerlukan Nabi karena mereka tidak menyakini akan adanya hari kebangkitan dan pembalasan. Dalam ayat berikutnya Allah swt menjelaskan pengingkaran mereka dalam bentuk lain untuk mendustakan kerasulan Muhammad SAW. mereka menyangkal kerasulan Muhammad dengan mengatakan bahwa kalau Allah akan mengirimkan utusan, tentu ia akan mengutus malaikat bukan manusia. Akan tetapi, alasan mereka itu tidak dapat dibenarkan karena selama ini Allah hanya mengutus manusia sebagai rasul untuk manusia.

4. Asbabun Nuzul
Ibnu Jarir at-Tabrani dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘abbas bahwa ia berkata: “Ketika Allah Mengutus Nabi Muhammad sebagai Nabi, orang Arab mengingkarinya. Kemudian turunlah ayat ini.

5. Tafsir QS. An-Nahl ayat 43
 )        )
Tidaklah Kami mengutus para Rosul sebelummu kepada umat-umat untuk mengajak mereka agar mentauhidkan Aku (Allah swt) dan melaksanakan perintah-Ku, kecuali mereka itu adalah laki-laki dari Bani Adam yang kami wahyukan kepada mereka, bukan para malaikat.
Para ulama menjadikan kata (( رجال rijal pada ayat ini sebagai alasan untuk menyatakan bahwa semua manusia yang diangkat Allah sebagai Rasul adalah pria, dan tidak satupun yang wanita. Memang dari segi bahasa, kata rijal yang merupakan bentuk jamak dari kata ( رجل ) rajul seringkali dipahami dalam arti lelaki. Namun demikian, terdapat ayat-ayat Al-Qur’an yang mengesankan bahwa kata tersebut tidak selalu dalam arti jenis kelamin lelaki. Ia digunakan juga untuk menunjukkan manusia yang memiliki keistimewaan atau keyokohan, atau ciri tertentu yang membedakan mereka dari yang lainnya.
Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ketika Allah mengutus Muhammad SAW. orang-orang Arab mengingkari pengutusannya. Maka turunlah ayat:
 •• •        •• …
“Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: untuk memberi peringatan kepada manusia…” (QS. Yunus : 2).
Senada dengan ayat ini adalah firman Allah:
     …
“Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) malaikat?” (QS. Al-An’am: 8).
(       )
Maka tanyakanlah kepada ahli kitab dahulu diantara orang-orang Yahudi dan Nasrani, apakah para utusan yang diutus kepada mereka itu manusia ataukah malaikat? Jika mereka itu malaikat silakan kalian mengingkari Muhammad saw. tetapi, jika mereka itu manusia, jangan kalian ingkari dia.
Kata ( أهل الذكر ) ahl adz-Dzikr pada ayat ini dipahami oleh banyak ulama dalam arti para pemuka Agama Yahudi dan Nasrani. Mereka adalah orang-orang yang dapat memberi informasi tentang kemanusiaan para Rasul yang diutus Allah. Mereka wajar ditanyai karena mereka tidak dapat dikatakan berpihak pada informasi Al-Qur’an sebab mereka juga termasuk yang tidak mempercayainya, kendati demikian persoalan kemanusiaan para Rasul, mereka akui. Ada juga yang memahami istilah ini dalam artisejarawan, baik muslim ataupun nonmuslim.
Kata ( ان ) in/Jika pada ayat diatas yang biasanya digunakan menyangkut sesuatu yang tidak pasti atau diragukan, mengisyaratkan bahwa persoalan yang dipaparkan oleh Nabi Saw dan Al-Qur’an sudah sedemikian jelas, sehingga diragukan adanya ketidaktahuan, dan dengan demikian penoloakan yang dilakukan kaum musyrikin itu bukan lahir dari ketidaktahuan, tetapi dari sikap keras kepala.
Walaupun penggalan ayat ini turun dalam konteks tertentu, yakni objek pertanyaan, serta siapa yang ditanya tertentu pula, namun karena redaksinya yang bersifat umum, maka ia dapat dipahami pula sebagai perintah bertanya apa saja yang tidak diketahui atau diragukan kebenarannya kepada siapa pun yang mengetahui dan tidak tertuduh keobjektivitasnya.

6. Aspek Tarbawi
Dari tasfir Qs. An-Nahl: 43 kita dapat mengambil pelajaran sebagai berikut :
1) Para utusan Allah yang diutus kepada manusia sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad adalah manusia yang menerima wahyu dari-Nya.
2) Para Rasul itu diutus dengan membawa bukti kenabian (mukjizat) dan diberi kitab, termasuk Nabi Muhammad saw yang diberi Al-Qur’an.
3) Mereka yang tidak tahu diperintahkan untuk bertanya kepada yang mengetahui.

B. Surah QS. Al-Kahf ayat 65-70
1. Ayat dan Terjemahan
                 •         •                            •     •     
65. Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.
66. Musa berkata kepadanya, “ Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?”
67. Dia menjawab, “ Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku.
68. Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”.
69. Dia (Musa) berkata, “Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apapun.”
70. Dia berkata,” Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku menerangkannya kepadamu”.

2. Mufrodat Qs. Al-Kahfi ayat 65-70

 : Rahmah (yang dimaksud disini ialah kenabian)
الرّشْد : mendapatkan kebaikan
اَلْخُبْر : pengetahuan
لَكَ اَمْرًا : kamu dalam sesuatu urusan pun
عَنْ شَيْءٍ : tentang sesuatu apapun.
3. Munasabah
Pada ayat-ayat yang lalu Allah swt menjelaskan betapa keras kepala dan ingkarnya orang-orang musyrik dan orang-orang kafir yang menolak seruan yang disampaikan Rasulllah SAW. Padahal, perumpamaan dan kisah orang- orang yang dibinasakan Allah karena pembangkangan mereka, banyak dipaparkan dalam Al-Qur’an. Pada ayat-ayat berikut ini, digambarkan betapa gigihnya hati Nabi Musa a.s. untuk mendapatkan kebenaran dan kedalaman ilmu. Betapapun sulit dan penuh bahaya suatu perjalanan dan sukarnya cara yang harus ditempuh, namun ia pantang menyerah.

4. Asbabun Nuzul
Untuk Qs. Al-Kahfi ayat 65 sampai 70 tidak ada asbabun nuzulnya.

5. Tafsir
65. Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami. Banyak ulama yang berpendapat bahwa hamba Allah yang dimaksud adalah salah seorang nabi yang bernama al Khidhr. Kata al Khidhr sendiri bermakna hijau. Nabi SAW bersabda bahwa penamaan itu disebabkan karena suatu ketika duduk ia duduk dibulu yang berwarna putih, tiba-tiba warnanya berubah menjadi hijau. Agaknya penamaan serta warna itu disebagai simbol keberkahan yang menyertai hamba Allah yang istimewa itu. Ayat diatas mengisyaratkan bahwa beliau dianugrahi rahmat dan ilmu. Penganugrahan rahmat dilukiskan dengan kata مِّنْ عِنْدِ نَا sedangkan penganugrahan ilmu dengan kata مِنْ لَّدُ نَّا yang keduanya bermakna dari sisi Kami.
66. dalam ayat ini, Allah menggambarakan secara jelas sikap Nabi Musa sebagai calon murid kepada calon gurnya dengan mengajukan permintaaan kesopanan dan merendahkan hati. Beliau menempatkan dirinya sebagai orang yang bodoh dan mohon diperkenankan mengikutinya, supaya Khidr sudi mengajarkan sebagian ilmunya yang telah diberikan kepadanya.
67. Dalam ayat ini Khidr menjawab pertanyaan Nabi Musa sebagai berikut, “ Hai Musa, kamu tak akan sabar mengikutiku. Karena saya memiliki ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepadaku yang kamu tidak mengetahuinya, dan kamu memiliki ilmu yang telah diajarkan Allah kepadamu yang aku tidak mengetahuinya.” Kemampuan Khidr meramal sikap Nabi Musa kalau sampai mnyertainya didasarkan pada ilmu yang telah beliau terima dari Allah.
68. dalam ayat ini, Khidr menjelaskan kepada Nabi Musa tentang sebab beliau tidak akan sabar nantinya kalau terus menerus menyertainya. Disana Nabi Musa akan melihat kenyataan bahwa pekerjaan Khidr secara lahiriah bertentangan dengan syariat Nabi Musa a.s. Oleh karena itu, Khidr berkata kepada Nabi Musa, “ Bagaimana kamu dapat bersabar terhadap perbuatan-perbuatan yang lahirnya menyalahi syari’atmu, padahal kamu seorang nabi.
69. Dalam ayat ini, Nabi Musa berjanji tidak akan mengingkari dan tidak akan menyalahi apa yang dikerjakan oleh Khidr. Beliau juga berjanji akan melaksanakan perintah Khidr selama perintah itu tidak bertentangan dengan perintah Allah. Janji yang beliau ucapkan dalam ayat ini didasari dengan kata-kata “Insya Allah” karena beliau sadar bahwa itu perkara yang sangat besar dan berat, apalagi ketika melihat kemungkaran.
70. Dalam ayat ini, Khidr berkata kepadanya (Musa): “Jika kamu (Nabi Musa) berjalan bersamaku (Khidr) maka janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang aku lakukan dan tentang rahasianya, sehingga aku sendiri menerangkan kepadamu duduk persoalannya. Jangan kamu menegurku terhadap sesuatu perbuatan yang tidak dapat kau benarkan hingga aku sendiri yang mulai menyebutnya untuk menerangkan keadaan yang sebenarnya.” Syarat dari Khidir itu diterima oleh Musa demi memelihara kesopanan seorang murid terhadap gurunya.

6. Aspek Tarbawi
Dari tasfir Qs. Al-Kahf ayat 65-70 kita dapat mengambil pelajaran sebagai berikut :
1) Khidr bersedia menerima permintaan Musa asal ia bersedia sabar dan tidak menanyakan segala persoalan yang dihadapinya.
2) Adanya kemauan yang keras dari Musa untuk berguru kepada Khidr.
3) Kisah Nabi Musa dan Khidr bisa menjadi pedoman bagi kita dalam adab dan sopan santun seorang murid terhadap gurunya dan semangat untuk mencari ilmu.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada QS. An- Nahl ayat 43 dapat kita simpulkan bahwa para utusan Allah yang diutus kepada manusia sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad adalah manusia yang menerima wahyu dari-Nya, para Rasul itu diutus dengan membawa bukti kenabian dan diberi kitab, termasuk Nabi Muhammad saw yang diberi Al Qur’an. Dan memerintahkan kepada yang tidak mengetahui sesuatupun untuk bertanya kepada yang mengetahui.
Sedangkan pada Qs. Al-Kahf ayat 65-70 dapat kita simpulkan bahwa Nabi Musa berjalan dengan muridnya untuk menemui Khidr a.s, dan Musa memohn kepada Khidr agar diberi pelajaran da pengalaman, kemudian Khidr bersedia menerima permintaan Musa asal ia bersedia sabar dan tidak menanyakan segala persoalan yang dihadapinya.

B. Saran
Penulis menyadari akan banyaknya kekurangan dalam makalah ini, baik dari ejaan tulisan, tata kalimat, tata bahasa maupun yang lainnya. Tetapi setidaknya penulis telah berusaha menguraikan maksud dari “Adab Mencari Ilmu (berdasarkan tafsir surat An-Nahl: 43 dan Al-Kahfi: 65-70)”. Oleh karena, itu banyaknya kekurangan dalam makalah ini, penulis mengharapkan adanya wujud apresiasi pembaca untuk memberikan koreksi dan masukan agar penulis mampu memperbaikinya, Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI. 2009. Al-Hikmah Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung: CV Penerbit Diponegoro.

Al-Maragi, Ahmad Mustafa. 1992. Tafsir Al Maragi, terj. Bahrun Abu Bakar, Juz XIV. Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang.
Departement Agama RI. 2010. Al-Qur’an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan), jilid V. Jakarta: Lentera Abadi.
Shihab, M. Quraish. 2005. Tafsir Al-Mishbah, cet. Ke-3, Jilid 7. Jakarta: Lentera Hati.
Al-Maragi, Ahmad Mustafa. 1993. Tafsir Al Maragi, terj. Bahrun Abu Bakar, Juz XV. Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang.

Al Mahalli, Imam Jalaluddin. 2009. Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Shihab, M. Quraish. 2005. Tafsir Al Misbah: pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an, jilid 8. Jakarta: Lentera Hati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s