kumpulan makalah

HAK TETANGGA

Posted on Updated on

HAK TETANGGA
Makalah
Disusun guna memenuhi tugas:
Mata Kuliah : Hadis Tarbawi
Dosen Pengampu : Drs. H. Ahmad Rifa’i, M.Pd

Disusun oleh:
Nur Fuaidah (2021113206)
KELAS PAI D
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Manusia makhluk sosial yang mesti berinteraksi dengan sesamanya. Mereka membentuk komunitas sendiri lalu bermasyarakat dan bertetangga. Kehidupan manusia tidak lepas dari hal-hal ini. Oleh karena itu ketika jiwa manusia dipenuhi ruh keimanan dan Islam sebagai wadah kehidupan seorang muslim, Islam mengajarkan umatnya untuk memelihara dan menghargai hak orang lain dalam pergaulan masyarakat. Akan tetapi peradaban modern yang tegak diatas materi tanpa memperdulikan makna dan akhlak yang mulia telah banyak menghilangkan hak-hak manusia, sehingga kita dapatkan sikap keakuan dan ketidak pedulian akan alam sekitarnya. Hasilnya kehancuran dan kerusakan yang tidak henti-hentinya. Manusia bagaikan alat dan robot yang dirancang bekerja setiap hari untuk mencapai nilai materi duniawi.
Diantara hak-hak manusia yang hilang akibat peradaban modern materialistis ini adalah hak-hak tetangga. Padahal tetangga memiliki kedudukan tinggi dalam masyarakat jahiliyah dulu dan masyarakat islam, baik secara syari’at, akal, harakat dan keagamaan.
Islam agama yang tinggi dan paripurna telah mengatur dan menetapkan hak tetangga dalam ajaran yang demikian rinci dan jelasnya. Tinggal kita mempelajari dan mengamalkannya setelah itu akan kita tuai (panen) hasil baiknya dalam kemasyarakatan dan bernegara.
Rumusan masalah
Bagaimana hadis tentang hak tetangga?
Bagaimana arti dan penjelasannya?
Bagaimana aspek tarbawinya?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hadits
عَنْ بَهِزْ بِنْ حَكِمْ عَنْ اَبِيه عن جده قال قلت يارسول الله مَاحَقُ جَارِي علي قال اِنْ مَرِضَ عُدْ تَهُ وَاِنْ مَاتَ شَيَعْتَهُ وَاِنِ اسْتَقْرَضَكَ اَقْرَضْتَهُ وَاِنْ اَعُوزَسَتْرَتَهُ وَاِنْ اَصَا بَهُ خَيْرًهَنَا تَهُ وَاِنْ اَصَابَتْهُ مُصيبَةٌ عَزيتَههٌ وَلاَ تَرْفَعُ بٌنَاءَكَ فَوْقَ بَنَاءِهِ فتسد عليه الر يح ولاتؤذه بريحقد رك الاان تغرف له منها
Artinya: “ Dari Baiz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya berkata: hai Rasulullah apa hak-hak tetangga terhadap saya? Rasul menjawab: jika dia sakit kamu tengok dan bila wafat maka antarkanlah jenazahnya, bila dia membutuhkan bantuan kepadamu maka bantulah kebutuhannya, bila dia mengalami kesulitan (kesukaran) maka selesaikanlah, dia mendapat musibah yang baik maka ucapkanlah selamat kepadanya, jika mendapat musibah yang jelek maka doakanlah dan tengoklah dan jika mendirikan bangunan janganlah meninggikan bangunan diatas bangunannya sehingga angin tidak bisa masuk kerumahnya dan jangan menyakiti dengan bau periuk masakan kecuali kamu menciduk sebagian untuk diberikan kepadanya”. (HR. Ath-Thabrani)

B. Penjelasan Hadits
Kata Al Jaar (tetangga) dalam bahasa Arab berarti orang yang bersebelahan denganmu. Ibnu Mandzur berkata: “الجِوَار, الْمُجَاوَرَةdan الْجَارُbermakna orang yang bersebelahan denganmu.
Sedang secara istilah syar’i bermakna orang yang bersebelahan secara syar’i baik dia seorang muslim atau kafir, baik atau jahat, teman atau musuh, berbuat baik atau jelek, bermanfaat atau merugikan dan kerabat atau bukan.
Ibnu hajar Al Asqalaaniy menyatakan: Nama tetangga meliputi semua orang islam dan kafir, ahli ibadah dan fasiq, teman dan lawan, warga asing dan pribumi, orang yang bermanfaat dan merugikan, kerabat dan bukan kerabat dan dekat rumahnya atau jauh. Tetangga memiliki tingkatan, sebagiannya lebih tinggi dari sebagian yang lainnya.
Tetangga memiliki tingkatan, sebagiannya lebih tinggi dari sebagian yang lainnya, bertambah dan berkurang sesuai dengan kedekatan dan kejauhannya, kekerabatan, agama dan ketakwaannya serta yang sejenisnya. Sehingga diberikan hak tetangga tersebut sesuai dengan keadaan dan hak mereka.
Adapun batasannya masih diperselisihkan para ulama, diantara pendapat mereka adalah:
1. Batasan tetangga yang mu’tabar adalah empat puluh rumah dari semua arah. Hal ini disampaikan oleh Aisyah , Azzuhriy dan Al Auzaa’iy.[2]
2. Sepuluh rumah dari semua arah.
3. Orang yang mendengar adzan adalah tetangga. Hal ini disampaikan oleh Ali bin Abi Tholib .
4. Tetangga adalah yang menempel dan bersebelahan saja.
5. Batasannya adalah mereka yang disatukan oleh satu masjid.
6. Tetangga adalah orang yang sekota, ini pendapat sebagian ulama berdalil dengan firman Allah taala:
لَّئِن لَّمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَبِهِمْ ثُمَّ لاَيُجَاوِرُونَكَ فِيهَآ إِلاَّ قَلِيلاً
Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, (QS. 33:60)
Kedudukan tetangga bagi seorang muslim
Hak dan kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah besar dan mulia. Sampai-sampai sikap terhadap tetangga dijadikan sebagai indikasi keimanan. Syeikh Abdurrahman menjelaskan bahwa tetangga yang lebih dekat tempatnya, lebih besar haknya. Maka sudah semestinya seorang mempererat hubungannya terhadap tetangganya, dengan memberinya sebab-sebab hidayah, dengan sedekah, lemah lembut dalam perkataan dan perbuatan serta tidak memberikan gangguan berupa perkataan atau perbuatan.
Beberapa hak tetangga yang wajib kita ditunaikan adalah:
1. Tidak menyakitinya baik dalam bentuk perbuatan maupun perkataan.
2. Menolongnya dan bersedekah kepadanya jika dia termasuk golongan yang kurang mampu.Termasuk hak tetangga adalah menolongnya saat dia kesulitan dan bersedekah jika dia membutuhkan bantuan. Rasulullah Saw. bersabda “Barangsiapa yang menghilangkan kesulitan sesama muslim, maka Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan dari berbagai kesulitan di hari kiamat kelak” (HR. Bukhori)
3. Menutup kekurangannya dan menasihatinya agar bertaubat dan bertakwa kepada Allah.Jika kita mendapati tetangga kita memiliki cacat maka hendaklah kita merahasiakannya. Jika cacat itu berupa kemaksiatan kepada Allah maka nasihatilah dia untuk bertaubat dan ingatkanlah agar takut kepada adzab-Nya. Rasulullah Saw. bersabda ”Barangsiapa menutupi aib muslim lainnya, maka Alloh akan menutup aibnya pada hari kiamat kelak” (HR. Bukhori).
4. Berbagi dengan tetangga. Jika kita memiliki nikmat berlebih maka hendaknya kita membagikan kepada tetangga kita sehingga mereka juga menikmatinya. Rasulullah Saw. bersabda “jika Engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya dan bagikan kepada tetanggamutidak sepantasnya seorang muslim bersantai ria dengan keluarganya dalam keadaan kenyang sementara tetangganya sedang kelaparan. Rasulullah Saw. bersabda لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِيْ يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائعٌ إِلَى جَنْبِهِTidak termasuk mukmin orang yang kenyang padahal tetangga sampingnya kelaparan

5. Jika tetangga menyakiti kita. Untuk permasalahan ini, maka cara terbaik yang dapat kita lakukan adalah bersabar dan berdo’a kepada Alloh Ta’ala agar tetangga kita diberi taufik sehingga tidak menyakiti kita. Kita menghibur diri kita dengan sabda Rosulullah”Ada 3 golongan yang dicintai Alloh. (Salah satunya adalah) seseorang yang memiliki tetangga yang senantiasa menyakitinya, namun dia bersabar menghadapi gangguannya tersebut hingga kematian atau perpisahan memisahkan keduanya” (HR. Ahmad).

C. Aspek tarbawi
Diantara aspek tarbawi yang dapat kita ambil diantaranya:
1. Membiasakan berakhlak terpuji dengan cara menghormati hak tetangga.
2. Menyampaikan ucapan selamat ketika tetangga sedang bergembira, menjenguk tatkala sakit, menolong ketika mendapat kesusahan.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
menjalani kehidupan bertetangga dengan baik dan saling menunaikan hak masing-masing merupakan suatu kebahagiaan dan tanda kebaikan sebuah masyarakat.
Demikianlah besar hak tetangga yang terkadang kurang kita perhatikan, padahal demikian besar dan pentingnya bagi kehidupan seorang muslim dalam bermasyarakat. Oleh karena itu marilah kita perbaiki kehidupan kita dengan lebih memperhatikan lagi syariat islam, sehingga kita dapat hidup diatas takwa dan iman. Kemudian dengan hal itu kita berharap dapat mencapai kemulian dan kebahagian didunia dan akherat.

DAFTAR PUSTAKA

Zuhri, Mohammad. 2003. Ihya Ulumiddin. jidil IV. Semarang: CV Asy syifa.

http://klikuk.com/tetangga-dalam-tinjauan-islam/ diakses tanggal 21 april 2015 pukul 08.00.

http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/hak-hak-tetangga.html diakses tanggal 21april pukul 08.15.