objek wisata

OBJEK WISATA YANG ADA DI KABUPATEN PEMALANG

Posted on Updated on

WAHANA WISATA CEMPAKA WULUNG

Terletak kurang lebh 44 km arah selatan kota Pemalang, dengan luas 3 Ha, di desa Moga kecamatan Moga. Kawasan yang rindang dan sejuk ini tercipta karena areanya terletak di kawasan hutan pinus.

Disini terdapat sumber mata air yang berlimpah dan jernih dengan kombinasi yang sesuai antara kondisi cuaca yang sejuk dengan keadaan air yang segar, dimana mampu menciptakan kondisi yang sehat bagi tubuh kita untuk berolah raga baik itu berenang, jogging, maupun hiking. Adanya fasilitas kolam renang yang memadai dimana air yang digunakan berasal dari sumber mata air murni akan lebih menambah kesegaran pada tubuh saat berenang. Disamping itu untuk menambah kesemarakan dilokasi wisata disediakan panggung hiburan dimana pengunjung dapat menikmati hiburan baik itu musik maupun pentas seni. Sedangkan bagi penggemar olah raga hiking akan dimanjakan oleh jalur yang menantang karena arealnya yang berbukit menambah tantangan dalam berpetualang di samping itu juga di sediakan tempat untuk camping yang terasa lebih natural karena berada di areal perbukitan

OBJEK WISATA YANG ADA DI KABUPATEN PEMALANG

Posted on

KOLAM RENANG ALAMI DAN TEMPAT PERISTIRAHATAN MOGA

Terletak kurang lebih 41 km sebelah selatan kota Pemalang. Dengan luas 2 Ha, Merupakan kawasan teduh dengan sebuah kolam renang alam yang berasal dari sumber mata air alami yang jernih dan sejuk.

Dengan panorama alam pegunungan yang indah mengitari areal kolam renang dengan fasilitas pendukung seperti penginapan, sarana olah raga, berupa lapangan tenis, serta restoran. Disamping itu terdapat kios buah buahan yang khas dengan kota Pemalang seperti nanas, alpukat, yang dapat di beli dengan harga yang relatif murah. Dengan kondisi air yang jernih berasal dari sumber mata air, maka pengunjung yang berenang disitu dapat menikmati kesejukan alami yang terus menerus, ditambah lagi dengan kondisi udara yang masih segar, sehingga pengunjung dapat berenang dengan nyaman.

OBJEK WISATA YANG ADA DI KABUPATEN PEMALANG

Posted on

PANTAI WIDURI

Terletak kurang lebih 3 km sebelah utara kota Pemalang, dengan luas 16,50 Ha yang bisa ditempuh baik menggunakan angkutan kota maupun dengan kendaraan sendiri hal ini karena infrastruktur jalan yang memadai. Begitu kita memasuki lingkungan pantai Widuri, maka kita akan di sambut dengan rimbunan pohon – pohon besar yang rindang yang sudah berumur ratusan tahun yang berjajar rapi di sepanjang jalan areal pantai Widuri. Demikian pula dibibir pantai kumpulan pohon – pohon cemara berjajar rapi, keindahan semakin tampak menjelang sore hari dimana kita bisa menikmati pemandangan sunset dari pantai Widuri yang tidak kalah dengan pantai lainnya di Indonesia.

Selain panorama yang indah di kombinasikan dengan tempat rekreasi, hiburan, dan olah raga seperti kolam renang, lapangan tenis, sarana mainan anak, dan panggung hiburan. Ditambah lagi sekarang akan di buat water boom tentunya ini akan semakin meningkatkan daya tarik pantai Widuri dan untuk memasuki kawasan inipun biaya yang dikenakan relatif murah yaitu Rp 1100,-. Fasilitas lain yang tidak kalah penting adalah fasilitas jasa boga dimana di sediakan berbagai macam masakan laut yang disajikan di pinggir pantai. Sedangkan fasilitas penginapan berada di pusat kota.

Posted on

“ADAB MENCARI ILMU”
( QS. An-Nahl: 43 dan Al- Kahfi: 65-70 )
Disusun guna memenuhi tugas makalah:
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi II
Dosen Pengampu : M. Rodli, M. Pd.I

Disusun oleh:
Sugi Mulyani ( 2021113194 )
Khoirun Nisa ( 2021113202 )
Nur Fuaidah ( 2021113206 )

Kelas: PAI B

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015
BAB I
PNDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Allah memberikan peringatan kepada orang – orang musyrik, yang selalu berusaha membuat rencana dan tipu muslihat yang jahat dan menghalangi dakwah Islam, bahwa mereka tidak akan pernah merasa aman dari ancaman-ancaman Allah yang akan ditimpakan kepada mereka.
Allah menjelaskan betapa keras kepala dan ingkarnya orang-orang musyrik dan orang-orang kafir yang menolak seruan yang disampaikan Rasulullah SAW. Padahal, perumpamaan dan kisah orang- orang yang dibinasakan Allah karena pembangkangan mereka, banyak dipaparkan dalam Al-Qur’an. Pada ayat-ayat berikut ini, digambarkan betapa gigihnya hati Nabi Musa a.s. untuk mendapatkan kebenaran dan kedalaman ilmu.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Adab Mencari Ilmu yang Terkandung dalam QS. An-Nahl: 43 ?
2. Bagaimana Adab Mencari Ilmu yang Terkandung dalam QS. Al-Kahfi:65-70?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Surah An-Nahl Ayat 43
1. Ayat dan Terjemahan

                
43. “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu (Muhammad), kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka, Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”.

2. Mufrodat Qs. An-Nahl: 43

 : Sebelum kamu
 : Orang laki-laki
  : Ahli kitab (orang yang mengetahui)
  : Kalian tidak mengetahui.

3. Munasabah
Dalam ayat-ayat yang lalu menguraikan tentang keburukan ucapan dan perbuatan kaum musyrikin, serta pengingkaran mereka terhadap keesaan Allah swt, kerasulan nabi Muhammad Saw, dan menganiyaya Nabi dan pengikutnya sehingga mereka hijrah menyelamatkan diri. Hal ini menunjukkan bahwa kaum musyrikin tidak memerlukan Nabi karena mereka tidak menyakini akan adanya hari kebangkitan dan pembalasan. Dalam ayat berikutnya Allah swt menjelaskan pengingkaran mereka dalam bentuk lain untuk mendustakan kerasulan Muhammad SAW. mereka menyangkal kerasulan Muhammad dengan mengatakan bahwa kalau Allah akan mengirimkan utusan, tentu ia akan mengutus malaikat bukan manusia. Akan tetapi, alasan mereka itu tidak dapat dibenarkan karena selama ini Allah hanya mengutus manusia sebagai rasul untuk manusia.

4. Asbabun Nuzul
Ibnu Jarir at-Tabrani dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘abbas bahwa ia berkata: “Ketika Allah Mengutus Nabi Muhammad sebagai Nabi, orang Arab mengingkarinya. Kemudian turunlah ayat ini.

5. Tafsir QS. An-Nahl ayat 43
 )        )
Tidaklah Kami mengutus para Rosul sebelummu kepada umat-umat untuk mengajak mereka agar mentauhidkan Aku (Allah swt) dan melaksanakan perintah-Ku, kecuali mereka itu adalah laki-laki dari Bani Adam yang kami wahyukan kepada mereka, bukan para malaikat.
Para ulama menjadikan kata (( رجال rijal pada ayat ini sebagai alasan untuk menyatakan bahwa semua manusia yang diangkat Allah sebagai Rasul adalah pria, dan tidak satupun yang wanita. Memang dari segi bahasa, kata rijal yang merupakan bentuk jamak dari kata ( رجل ) rajul seringkali dipahami dalam arti lelaki. Namun demikian, terdapat ayat-ayat Al-Qur’an yang mengesankan bahwa kata tersebut tidak selalu dalam arti jenis kelamin lelaki. Ia digunakan juga untuk menunjukkan manusia yang memiliki keistimewaan atau keyokohan, atau ciri tertentu yang membedakan mereka dari yang lainnya.
Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ketika Allah mengutus Muhammad SAW. orang-orang Arab mengingkari pengutusannya. Maka turunlah ayat:
 •• •        •• …
“Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: untuk memberi peringatan kepada manusia…” (QS. Yunus : 2).
Senada dengan ayat ini adalah firman Allah:
     …
“Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) malaikat?” (QS. Al-An’am: 8).
(       )
Maka tanyakanlah kepada ahli kitab dahulu diantara orang-orang Yahudi dan Nasrani, apakah para utusan yang diutus kepada mereka itu manusia ataukah malaikat? Jika mereka itu malaikat silakan kalian mengingkari Muhammad saw. tetapi, jika mereka itu manusia, jangan kalian ingkari dia.
Kata ( أهل الذكر ) ahl adz-Dzikr pada ayat ini dipahami oleh banyak ulama dalam arti para pemuka Agama Yahudi dan Nasrani. Mereka adalah orang-orang yang dapat memberi informasi tentang kemanusiaan para Rasul yang diutus Allah. Mereka wajar ditanyai karena mereka tidak dapat dikatakan berpihak pada informasi Al-Qur’an sebab mereka juga termasuk yang tidak mempercayainya, kendati demikian persoalan kemanusiaan para Rasul, mereka akui. Ada juga yang memahami istilah ini dalam artisejarawan, baik muslim ataupun nonmuslim.
Kata ( ان ) in/Jika pada ayat diatas yang biasanya digunakan menyangkut sesuatu yang tidak pasti atau diragukan, mengisyaratkan bahwa persoalan yang dipaparkan oleh Nabi Saw dan Al-Qur’an sudah sedemikian jelas, sehingga diragukan adanya ketidaktahuan, dan dengan demikian penoloakan yang dilakukan kaum musyrikin itu bukan lahir dari ketidaktahuan, tetapi dari sikap keras kepala.
Walaupun penggalan ayat ini turun dalam konteks tertentu, yakni objek pertanyaan, serta siapa yang ditanya tertentu pula, namun karena redaksinya yang bersifat umum, maka ia dapat dipahami pula sebagai perintah bertanya apa saja yang tidak diketahui atau diragukan kebenarannya kepada siapa pun yang mengetahui dan tidak tertuduh keobjektivitasnya.

6. Aspek Tarbawi
Dari tasfir Qs. An-Nahl: 43 kita dapat mengambil pelajaran sebagai berikut :
1) Para utusan Allah yang diutus kepada manusia sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad adalah manusia yang menerima wahyu dari-Nya.
2) Para Rasul itu diutus dengan membawa bukti kenabian (mukjizat) dan diberi kitab, termasuk Nabi Muhammad saw yang diberi Al-Qur’an.
3) Mereka yang tidak tahu diperintahkan untuk bertanya kepada yang mengetahui.

B. Surah QS. Al-Kahf ayat 65-70
1. Ayat dan Terjemahan
                 •         •                            •     •     
65. Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.
66. Musa berkata kepadanya, “ Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?”
67. Dia menjawab, “ Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku.
68. Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”.
69. Dia (Musa) berkata, “Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apapun.”
70. Dia berkata,” Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku menerangkannya kepadamu”.

2. Mufrodat Qs. Al-Kahfi ayat 65-70

 : Rahmah (yang dimaksud disini ialah kenabian)
الرّشْد : mendapatkan kebaikan
اَلْخُبْر : pengetahuan
لَكَ اَمْرًا : kamu dalam sesuatu urusan pun
عَنْ شَيْءٍ : tentang sesuatu apapun.
3. Munasabah
Pada ayat-ayat yang lalu Allah swt menjelaskan betapa keras kepala dan ingkarnya orang-orang musyrik dan orang-orang kafir yang menolak seruan yang disampaikan Rasulllah SAW. Padahal, perumpamaan dan kisah orang- orang yang dibinasakan Allah karena pembangkangan mereka, banyak dipaparkan dalam Al-Qur’an. Pada ayat-ayat berikut ini, digambarkan betapa gigihnya hati Nabi Musa a.s. untuk mendapatkan kebenaran dan kedalaman ilmu. Betapapun sulit dan penuh bahaya suatu perjalanan dan sukarnya cara yang harus ditempuh, namun ia pantang menyerah.

4. Asbabun Nuzul
Untuk Qs. Al-Kahfi ayat 65 sampai 70 tidak ada asbabun nuzulnya.

5. Tafsir
65. Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami. Banyak ulama yang berpendapat bahwa hamba Allah yang dimaksud adalah salah seorang nabi yang bernama al Khidhr. Kata al Khidhr sendiri bermakna hijau. Nabi SAW bersabda bahwa penamaan itu disebabkan karena suatu ketika duduk ia duduk dibulu yang berwarna putih, tiba-tiba warnanya berubah menjadi hijau. Agaknya penamaan serta warna itu disebagai simbol keberkahan yang menyertai hamba Allah yang istimewa itu. Ayat diatas mengisyaratkan bahwa beliau dianugrahi rahmat dan ilmu. Penganugrahan rahmat dilukiskan dengan kata مِّنْ عِنْدِ نَا sedangkan penganugrahan ilmu dengan kata مِنْ لَّدُ نَّا yang keduanya bermakna dari sisi Kami.
66. dalam ayat ini, Allah menggambarakan secara jelas sikap Nabi Musa sebagai calon murid kepada calon gurnya dengan mengajukan permintaaan kesopanan dan merendahkan hati. Beliau menempatkan dirinya sebagai orang yang bodoh dan mohon diperkenankan mengikutinya, supaya Khidr sudi mengajarkan sebagian ilmunya yang telah diberikan kepadanya.
67. Dalam ayat ini Khidr menjawab pertanyaan Nabi Musa sebagai berikut, “ Hai Musa, kamu tak akan sabar mengikutiku. Karena saya memiliki ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepadaku yang kamu tidak mengetahuinya, dan kamu memiliki ilmu yang telah diajarkan Allah kepadamu yang aku tidak mengetahuinya.” Kemampuan Khidr meramal sikap Nabi Musa kalau sampai mnyertainya didasarkan pada ilmu yang telah beliau terima dari Allah.
68. dalam ayat ini, Khidr menjelaskan kepada Nabi Musa tentang sebab beliau tidak akan sabar nantinya kalau terus menerus menyertainya. Disana Nabi Musa akan melihat kenyataan bahwa pekerjaan Khidr secara lahiriah bertentangan dengan syariat Nabi Musa a.s. Oleh karena itu, Khidr berkata kepada Nabi Musa, “ Bagaimana kamu dapat bersabar terhadap perbuatan-perbuatan yang lahirnya menyalahi syari’atmu, padahal kamu seorang nabi.
69. Dalam ayat ini, Nabi Musa berjanji tidak akan mengingkari dan tidak akan menyalahi apa yang dikerjakan oleh Khidr. Beliau juga berjanji akan melaksanakan perintah Khidr selama perintah itu tidak bertentangan dengan perintah Allah. Janji yang beliau ucapkan dalam ayat ini didasari dengan kata-kata “Insya Allah” karena beliau sadar bahwa itu perkara yang sangat besar dan berat, apalagi ketika melihat kemungkaran.
70. Dalam ayat ini, Khidr berkata kepadanya (Musa): “Jika kamu (Nabi Musa) berjalan bersamaku (Khidr) maka janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang aku lakukan dan tentang rahasianya, sehingga aku sendiri menerangkan kepadamu duduk persoalannya. Jangan kamu menegurku terhadap sesuatu perbuatan yang tidak dapat kau benarkan hingga aku sendiri yang mulai menyebutnya untuk menerangkan keadaan yang sebenarnya.” Syarat dari Khidir itu diterima oleh Musa demi memelihara kesopanan seorang murid terhadap gurunya.

6. Aspek Tarbawi
Dari tasfir Qs. Al-Kahf ayat 65-70 kita dapat mengambil pelajaran sebagai berikut :
1) Khidr bersedia menerima permintaan Musa asal ia bersedia sabar dan tidak menanyakan segala persoalan yang dihadapinya.
2) Adanya kemauan yang keras dari Musa untuk berguru kepada Khidr.
3) Kisah Nabi Musa dan Khidr bisa menjadi pedoman bagi kita dalam adab dan sopan santun seorang murid terhadap gurunya dan semangat untuk mencari ilmu.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada QS. An- Nahl ayat 43 dapat kita simpulkan bahwa para utusan Allah yang diutus kepada manusia sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad adalah manusia yang menerima wahyu dari-Nya, para Rasul itu diutus dengan membawa bukti kenabian dan diberi kitab, termasuk Nabi Muhammad saw yang diberi Al Qur’an. Dan memerintahkan kepada yang tidak mengetahui sesuatupun untuk bertanya kepada yang mengetahui.
Sedangkan pada Qs. Al-Kahf ayat 65-70 dapat kita simpulkan bahwa Nabi Musa berjalan dengan muridnya untuk menemui Khidr a.s, dan Musa memohn kepada Khidr agar diberi pelajaran da pengalaman, kemudian Khidr bersedia menerima permintaan Musa asal ia bersedia sabar dan tidak menanyakan segala persoalan yang dihadapinya.

B. Saran
Penulis menyadari akan banyaknya kekurangan dalam makalah ini, baik dari ejaan tulisan, tata kalimat, tata bahasa maupun yang lainnya. Tetapi setidaknya penulis telah berusaha menguraikan maksud dari “Adab Mencari Ilmu (berdasarkan tafsir surat An-Nahl: 43 dan Al-Kahfi: 65-70)”. Oleh karena, itu banyaknya kekurangan dalam makalah ini, penulis mengharapkan adanya wujud apresiasi pembaca untuk memberikan koreksi dan masukan agar penulis mampu memperbaikinya, Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI. 2009. Al-Hikmah Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung: CV Penerbit Diponegoro.

Al-Maragi, Ahmad Mustafa. 1992. Tafsir Al Maragi, terj. Bahrun Abu Bakar, Juz XIV. Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang.
Departement Agama RI. 2010. Al-Qur’an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan), jilid V. Jakarta: Lentera Abadi.
Shihab, M. Quraish. 2005. Tafsir Al-Mishbah, cet. Ke-3, Jilid 7. Jakarta: Lentera Hati.
Al-Maragi, Ahmad Mustafa. 1993. Tafsir Al Maragi, terj. Bahrun Abu Bakar, Juz XV. Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang.

Al Mahalli, Imam Jalaluddin. 2009. Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Shihab, M. Quraish. 2005. Tafsir Al Misbah: pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an, jilid 8. Jakarta: Lentera Hati.

Posted on Updated on

TEKNIK PENGUMPULAN DATA DAN INSTRUMEN PENELITIAN
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas :
Mata Kuliah : Metodologi Penelitian
Dosen Pengampu: Maskhur, M.Ag.

Oleh:
Khoirun nisa (2021113202)
Nur Fuaidah (2021113206)
Irma Ayu Purnami (2021113209)
Fuad Amin Rosyadi (2021113237)
Rahmatul Khusna (2021113239)
Khoirul Umam (2021113246)
Urip Puji Astuti (2021113260)
Hepi Rahmawati (2021113265)
Indah Nur Baeti (2021113270)

Kelas: PAI C

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Penelitian dilakukan karena pengetahuan, pemahaman dan kemampuan manusia yang terbatas akan suatu hal serta besarnya rasa ingin tahu manusia yang menyebabkan timbulnya pertanyaan-pertanyaan dan ketidakpuasan akan apa yang telah dimiliki dan diketahui oleh manusia. Oleh sebab itu, muncullah penelitian-penelitian terbaru akan suatu hal. Hal ini dilakukan untuk memenuhi rasa ingin tahu dan ketidak puasan manusia.
Dalam menyusun sebuah laporan penelitian, seorang peneliti membutuhkan alat bantu yang digunakan sebagai alat atau instrumen penelitiannya. Serta membutuhkan data-data yang valid guna mendukung hasil dari penelitian tersebut. Oleh karena itu, seorang peneliti harus mengetahui dan memahami apa itu pengumpulan data, instrumen penelitian, teknik-teknik pengumpulan data serta skala pengukuran data.Menyusun instrumen pengumpulan data dan penelitian dilakukan setelah peneliti memahami apa yang menjadi variabel penelitiannya. Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Dengan demikian jumlah instrumen yang akan digunakan untuk penelitian akan tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Karena instrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data yang akurat, maka setiap instrumen harus mempunyai skala pengukurannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Teknik Pengumpulan Data?
2. Apa Saja Jenis-jenis Teknik Pengumpulan Data?
3. Apa yang Dimaksud dengan Instrumen Penelitian dan Apa Saja yang Perlu Diperhatikan?
4. Apa yang Dimaksud dengan Skala Pengukuran dan Apa Saja Macamnya?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Teknik Pengumpulan Data
Data (dantum) artinya sesuatu yang diketahui. Dan sekarang data diartikan sebagai informasi yang diterimanya tentang suatu kenyataan atau fenomena empiris, wujudnya dapat merupakan seperangkat ukuran (kuantitatif, berupa angka-angka) atau berupa ungkapan kata-kata (verbalize) atau kualitatif.
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, pengertian pengumpulan data adalah proses, cara, perbuatan mengumpulkan, atau menghimpun data. Sedangkan teknik pengumpulan data merupakan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Secara umumnya, dalam pengumpulan data dapat menggunakan beberapa teknik, yaitu:
1. Pengamatan (Observasi)
Merupakan teknik pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap objek penelitian yang dapat dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung.Petunjuk penting yang harus diperhatikan oleh peneliti dalam menggunakan teknik observasi menurut Rummel adalah sebagai berikut:
a) Pengetahuan yang cukup mengenai objek yang akan diteliti.
b) Menyelidiki tujuan-tujuan umum dan khusus dari masalah-masalah penelitian untuk menentukan masalah sesuatu yang harus diobservasi.
c) Menentukan cara dan alat yang dipergunakan dalam observasi.
d) Menentukan kategori gejala yang diamati untuk memperjelas ciri-ciri setiap kategori.
e) Melakukan pengamatan dan pencatatan dengan kritis dan detail agar tidak ada gejala yang lepas dari pengamatan.
f) Pencatatan setiap gejala harus dilakukan secara terpisah agar tidak saling mempengaruhi.
g) Menyiapkan secara baik alat-alat pencatatan dan cara melakukan pencatatan terhadap hasil observasi.
Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1) Observasi berperan serta (Participant observation)
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Dengan observasi ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, bahkan dapat sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak.
2) Observasi Nonpartisipan
Dalam observasi ini, peneliti tidak terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian dan hanya sebagai pengamat independen.
Selanjutnya, jika dilihat dari segi instrumentasi yang digunakan, maka observasi dapat dibedakan menjadi dua macam pula, yaitu:
1) Observasi terstruktur
Adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan, dan dimana tempatnya. Dalam melakukan pengamatan peneliti menggunakan instrumen penelitian yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya.
2) Observasi tidak terstruktur
Adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan. Misalnya, dalam suatu pameran produk industri dari berbagai negara, peneliti belum tahu pasti apa yang akan diamati. Oleh karena itu, peneliti dapat melakukan pengamatan secara bebas, mencatat apa yang menarik, melakukan analisis dan kemudian dibuat kesimpulan.
Menurut Sradley, tahapan dalam observasi adalah sebagai berikut:

2. Angket (Kuesioner)
Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan memberikan atau menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden dengan harapan memberikan respon atas daftar pertanyaan tersebut.
Terdapat empat komponen inti dari sebuah kuesioner, yaitu:
a) Adanya subyek, ialah individu atau lembaga yang melakukan penelitian.
b) Adanya ajakan, ialah permohonan dari peneliti kepada responden untuk turut serta mengisi atau menjawab pertanyaan secara objektif.
c) Adanya petunjuk pengisian kuesioner, dimana petunjuk yang tersedia harus mudah dimengerti dan tidak bias (mempunyai persepsi yang bermacam-macam).
d) Adanya pertanyaan atau pernyataan beserta tempat untuk mengisi jawaban, baik secara tertulis maupun terbuka. Dalam membuat kuesioner harus ada identitas responden (nama responden dapat tidak dicantumkan).
Menurut Uma Sekaran, terdapat beberapa prinsip dalam penulisan angket sebagai teknik pengumpulan data, yaitu:
a) Isi dan tujuan pertanyaan
Yang dimaksud adalah apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk pengukuran atau bukan. Kalau berbentuk pengukuran maka dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus skala pengukuran dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur variabel yang diteliti.
b) Bahasa yang digunakan
Bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan kemampuan berbahasa respondennya.
c) Tipe dan bentuk pertanyaan
Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka atau tertutup, dan bentuknya dapat berupa kalimat positif dan negatif.
d) Pertanyaan tidak mendua
Pertanyaan dalam angket jangan mendua (double-barreled) sehingga akan menyulitkan responden untuk memberikan jawaban. Contoh:
Bagaimana pendapat anda tenteng kualitas dan kecepatan pelayanan KTP? Ini adalah pertanyaan yang mendua, karena menanyakan dua hal sekaligus. Sebaiknya pertanyaan tersebut dijadikan menjadi dua, yaitu: Bagaimanakah kualitas pelayanan KTP? Bagaimanakah kecepatan pelayanan KTP?
e) Tidak menanyakan yang sudah lupa
Setiap pertanyaan dalam instrumen angket, sebaiknya juga tidak menanyakan hal-hal yang sekiranya responden sudah lupa, atau pertanyaan yang memerlukan jawaban dengan berfikir berat.

f) Pertanyaan tidak menggiring
Pertanyaan dalam angket sebaiknya juga tidak menggiring ke jawaban yang baik saja atau ke yang tidak baik saja.Contoh:Bagaimanakah kalau bonus atas jasa pelayanan ditingkatkan? Jawaban responden tentu cenderung akan setuju.
g) Panjang pertanyaan
h) Urutan pertanyaan
Urutan pertanyaan dalam angket, dimulai dari yang umum menuju ke hal yang spesifik, atau dari yang mudah menuju ke hal yang sulit, atau diacak. Hal ini perlu dipertimbangkan karena secara psikologis akan mempengaruhi semangat responden untuk menjawabnya.
i) Prinsip pengukuran
Angket yang diberikan kepada responden merupakan instrumen penelitian yang digunakan untuk mengkur variabel yang akan diteliti. Oleh karena itu, instrumen angket tersebut harus dapat digunakan untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel tentang variabel yang diukur.
j) Penampilan fisik angket.
Jenis-jenis Angket
a. Angket menurut jawaban yang diinginkan
Angket dibagi menurut sifat jawaban yang diinginkan:
1) Angket Tertutup
Angket tertutup terdiri atas pertanyaan atau pernyataan dengan sejumlah jawaban tertentu sebagai pilihan. Responden mengecek jawaban yang paling sesuai dengan pendiriannya.
Angket bentuk serupa ini dipilih bila peneliti cukup menguasai materi yang akan ditanyakan. Selain itu dianggap bahwa responden juga cukup mengetahuinya, sehingga dapat mengantisipasi jawaban-jawaban yang dapat diberikan dalam angket sebagai alat pengukur sikap misalnya, yang menunjukkan gradasi inteensitas sikap.
Angket sebagai alat ukur selalu bersifat tertutup.
Contoh:
– Setujukah saudara penggunaan hukuman jasmani dalam pendidikan?
ya- tidak
2) Angket Terbuka
Angket ini memberi kesempatan penuh memberi jawaban menurut apa yang dirasa perlu oleh responden. Peneliti hanya memberikan sejumlah pertanyaan berkenaan dengan masalah penelitian dan meminta responden menguraikan pendapat atau pendiriannya dengan panjang lebar bila diinginkan.
Contoh:
– Hukuman apakah yang paling sering saudara berikan?
3) Kombinasi Angket Terbuka dan Angket Tertutup
Banyak angket yang menggunakan kedua macam angket ini sekaligus. Di samping angket yang tertutup yang mempunyai sejumlah jawaban ditambah alternatif terbuka yang memberi kesempatan kepada respendon memberi jawaban di samping atau di luar jawaban yang tersedia.
Contoh:
Yang pernah digunakan oleh dosen ialah alat pengajaran:
– Gambar – radio
– Film – televisi
– Overhead projektor – diagram
b. Jenis Angket Menurut Administrasinya
Angket dapat juga dibedakan menurut cara admonistrasinya yaitu:
1) Angket Kiriman dengan Pos
Angket dapat dikirim per pos kepada sampel yang telah dipilih, dengan permintaan agar dikembalikan setelah diisi dalam amplop yang telah disediakan lengkap dengan alamat dan perangko disertai instruksi tentang cara mengisinya.

2) Angket yang Diisi di Hadapan Peneliti
Angket dapat diisi oleh responden dalam kehadiran peneliti atau asistennya. Angket dapat diisi oleh siswa-siswa dalam satu kelas, dapat pula diisi di rumah responden atau tempat lain yang ditentukan, sambilditunggu peneliti sampai selesai diisi. Dapat pula angket dibagikan kepada sejumlah responden, misalnya pegawai kantor untuk diisi di rumah msing-masing dan dikumpulkan esok harinya. Dengan cara ini dapat diharapkan bahwa angket itu dikembalikan setelah diisi.

3. Wawancara (Interview)
Wawancara (interview) merupakan pertemuan dua pihak untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Selanjutnya, Susan Stainback (1988) mengemukakan bahwa dengan wawancara, maka peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi, dimana hal ini tidak bisa ditemukan melalui observasi.
Sutrisno Hadi mengemukakan bahwa hal-hal yang perlu dipegang oleh peneliti dalam menggunakan teknik interview dan kuesioner adalah sebagai berikut:
a) Bahwa yang menjadi responden adalah orang yang paling tahu.
b) Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya.
c) Bahwa interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksud oleh peneliti.
Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi arus informasi dalam wawancara,yaitu: pewawancara, responden, pedoman wawancara, dan situasi wawancara.
a. Pewawancara
Pewawancara adalah petugas pengumpul informasi yang diharapkan dapat menyampaikan pertanyaan dengan jelas dan merangsang responden untuk menjawab semua pertanyaan dan mencatat semua informasi yang dibutuhkan dengan benar.
Beberapa karakteristik yang perlu dimiliki pewawancara:
1) Kemampuan dan keterampilan mewawancarai sumber informasi.
2) Kemampuan memahami dan menerima serta merekam hasil wawancara yang telah dilakukan.
3) Karakteristik sosial pewawancara.
4) Rasa percaya diri dan motivasi yang tinggi.
5) Rasa aman yang dimiliki.
b. Responden
Responden adalah pemberi informasi yang diharapkan dapat menjawab semua pertanyaan dengan jelas dan lengkap. Dalam pelaksanaan wawancara, diperlukan kesediaan dari responden untuk menjawab pertanyaan dan keselarasan antara responden dan pewawancara.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari sumber informasi (responden) yaitu:
1) Kemampuan memahami/menangkap pertanyaan dan mengolah jawaban dari pertanyaan yang diajukan pewawancara.
2) Karakteristik sosial (sikap, penampilan, relasi/hubungan) sumber informasi.
3) Kemampuan untuk menyatakan pendapat.
4) Rasa aman dan percaya diri.
c. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara berisi tentang uraian penelitian yang biasanya dituangkaan dalam bentuk daftar pertanyaan agar proses wawancara dapat berjalan dengan baik.
Di antara faktor-faktor yang penting dipahami dalam isi/materi pertanyaan yaitu:
1) Tingkat kesulitan materi yang ditanyakan.
Materi pertanyaan hendaklah dalam ruang lingkup kemampuan sumber informasi.
2) Kesensitifan materi pertanyaan.
Peneliti hendaklah menyadari hal-hal yang menyangkut moral, agama, ras, atau kedirian tiap sumber informasi yang selalu mengundang subjektivitas, keengganan, atau kepenolakan untuk memberi jawaban.
d. Situasi Wawancara
Situasi wawancara ini berhubungan dengan waktu dan tempat wawancara. Waktu dan tempat wawancara yang tidak tepat dapat menjadikan pewawancara merasa canggung untuk mewawancarai dan responden pun merasa enggan untuk menjawab pertanyaan.
Dalam situasi wawancara, sekurang-kurangnya ada empat kondisi yang perlu diperhatikan, yaitu:
1) Waktu pelaksanaan
2) Tempat pelaksanaan
3) Keadaan lingkungan pada waktu wawancara
4) Sikap masyarakat

Esterberg (2002) mengemukakan beberapa macam wawancara, yaitu wawancara terstruktur, semiterstruktur, dan tidak terstruktur.
a. Wawancara terstruktur (structured interview)
Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan.
b. Wawancara semiterstruktur (semistructure interview)
Jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in-dept interview, di mana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan lebih terbuka, di mana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat dan ide-idenya.
c. Wawancara tak berstruktur (unstructured interview)
Wawancara tak berstruktur adalah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpilan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.
Supaya hasil wawancara dapat terekam dengan baik, dan peneliti memiliki bukti telah melakukan wawancara kepada informan atau sumber data, maka diperlukan bantuan alat-alat sebagai berikut.
(1) Buku catatan: berfungsi untuk mencatat semua percakapan dengan sumber data.
(2) Tape recorder: berfungsi untuk merekam semua percakapan atau pembicaraan.
(3) Camera: untuk memotret kalau peneliti sedang melakukan pembicaraan dengan informan/sumber data.

Wawancara sebagai salah satu teknik dalam pengumpulan data akan lebih efektif apabila sebelum melakukan wawancara terlebih dahulu disusun secara sistematis materi yang akan ditanyakan.
a. Melakukan studi literatur untuk memahami dan menjernihkan masalah secara tuntas.
1) Menentukan “domain” yang mewakili masalah yang sebenarnya.
2) Mengidentifikasi sampel secara lebih terperinci, termasuk dalam hal ini alamat sumber informasi serta identitas lainnya.
3) Menentukan tipe wawancara yang akan digunakan.
b. Menentukan bentuk pertanyaan wawancara.
1) Apakah menggunakan bentuk langsung atau tidak langssung.
2) Apakah khusus atau tidak khusus
3) Apakah yang ditanyakan fakta atau pendapat.
4) Apakah berupa pertanyaan atau pernyataan.
c. Menentukan isi pertanyaan wawancara.
1) nyatakan pertanyaan dalam alasan yang jelas.
2) mulai dari pertanyaan fakta dan sederhana.
3) pertanyaan yang kompleks, tunda sampai kegiatan akhir.
4) setelah urutan ditentukan gunakan bahan yang tidak meragukan dalam bentuk yang khusus sehungga dapat dipahami sumber informasi.
5) pewawancara jangan mencoba berkomunikasi sebagai responden, karena akan mengurangi rasa hormat dari sumber informasi.
6) hindari pertanyaan yang membimbing, yang menyarankan sumber infornasi memberikan jawaban sesuai dengan yang diharapkan pewawancara.
4. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life historis), ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-lain.
5. Triangulasi
Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data.
Triangulasi teknik, berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak. Triangulasi sumber berarti, untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama.
6. Tes
Tes adalah suatu cara mengumpulkan data dengan memberikan tes kepada objek yang diteliti. Ada tes dengan pertanyaan yang disediakan pilihan jawaban, ada juga tes dengan pertanyaan tanpa pilihan jawaban (bersifat terbuka). Berdasarkan jawaban yang diberikan ditentukan nilai masing-masing pertanyaan sehingga dapat dipakai untuk mengukur karakteristik tertentu dari objek yang diteliti. ada beberapa macam tes yaitu,tes kecerdasan dan bakat, tes kepribadian, tes sikap, tes tentang nilai, dan tes prestasi belajar.
Pengertian tes sebagai metode pengumpulan data adalah serentetan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, sikap, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Berdasarkan sarana atau objek yang akan dievaluasi, test dan alat ukur dapat dibedakan menjadi:
a. Tes kepribadian (personality test), untuk mengukur kreativitas, disiplin, kemampuan khusus dan sebagainya.
b. Tes bakat (aptitude test), untuk mengukur bakat seseorang.
c. Tes intelegensi (intelligence test), untuk mengukur pikiran terhadap tingkat intelektual seseorang.
d. Tes sikap (attitude test), untuk mengukur sikap seseorang.
e. Tes minat (interest test), untuk mengukur minat seseorang terhadap sesuatu.
f. Tes prestasi (achievement test), untuk mengukur pencapaian keberhasilan seseorang setelah mempelajari sesuatu.

B. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah nafas dari penelitian oleh karena itu Menurut Arikunto, Instrumen penelitian merupakan sesuatu yang terpenting dan strategis kedudukannya di dalam keseluruhan kegiatan penelitian. Instrumen penelitian merupakan alat bantu peneliti dalam pengumpulan data. Mutu instrumen akan menentukan juga mutu daripada data yang dikumpulkan, sehingga tepatlah dikatakan bahwa hubungan instrumen dengan data adalah sebagai jantungnya penelitian yang saling terkait.
Menyusun instrument merupakan langkah penting dalam pola prosedur penelitian. Instrument berfungsi sebagai alat bantu dalam pengumpulan dan pengolahan data tentang variabel-variabel yang diteliti. Bentuk instrument berkaitan dengan teknik pengumpulan data yang digunakan. Oleh karena itu, secara tidak langsung instrument penelitian akan menyesuaikan dengan teknik penelitiannya. Secara garis besar, instrument terbagi menjadi dua, yaitu instrumen tes dan instrumen nontes. Instrumen yang berbentuk tes, ada tes objektif dan tes uraian, sedangkan instrument yang tergolong nontes disesuaikan dengan teknik pengumpulan datanya diantaranya berupa angket, wawancara, observasi dan lain-lain.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan peneliti dalam menyusun butir-butir instrumen penelitian untuk mengumpulkan data, sekurang-kurangnya peneliti harus memerhatikan dan mempertimbangkan dua pihak, yaitu sebagai berikut:
a. Pihak responden yang meliputi:
1) Daya tangkap responden terhadap sajian-sajian butir pertanyaan, usia, latar belakang pendidikan, latar belakang kehidupan sosial ekonomi, dan sebagainya.
2) Kesibukan responden: pekerjaan, keadaan sosial ekonomi yang memengaruhi banyak sedikitnya waktu yang tersedia untuk menjawab pertanyaan atau mengisi angket.
b. Pihak peneliti, yang meliputi:
1) Variabel yang diungkap: angket, daftar cocok, pedoman, atau tes.
2) Tersedianya tenaga, waktu, dan dana yang dimiliki pada peneliti.
3) Teknik pengujian reliabilitas yang akan dipilih.
Ada beberapa langkah umum yang biasa ditempuh dalam menyusun instrumen penelitian. Langkah-langkah tersebut anatara lain sebagai berikut:
1) Analisis variabel penelitian, yakni mengkaji variabel menjadi sub variabel dan indikator penelitian sejelas-jelasnya, sehingga indikator tersebut bisa diukur dan menghasilkan data yang diinginkan peneliti. Dalam membuat indikator variabel, peneliti dapat menggunakan teori atau konsep yang ada dalam pengetahuan ilmiah yang berkenaan dengan variabel tersebut, atau menggunakan fakta empiris berdasarkan pengamatan lapangan.
2) Menetapkan jenis instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel/sub variabel/indikator-indikatornya. Satu variabel mungkin bisa diukur oleh satu jenis instrumen, bisa pula lebih dari satu instrumen.
3) Setelah ditetapkan jenis instrumenya, peneliti menyususn kisi-kisi lay out instrumen. Kisi-kisi ini berisi lingkup materi pertanyaan, abilitas yang diukur, jenis pertanyaan, banyak pertanyaan, waktu yang dibutuhkan. Materi atau lingkup materi pertanyaan didasarkan dari indikator variabel. Artinya, setiap indikator akan menghasilkan beberapa lingkup pertanyaan, serta abilitas yang diukurnya. Abilitas yang dimaksud adalah kemampuan yang diharapkan dari subjek yang diteliti.
4) Berdasarkan kisi-kisi tersebut lalu peneliti menyusun iten atau pertanyaan sesuai dengan jenis instrumen dan jumlah yang telah ditetapkan sebagai item cadangan. Untuk setiap item yang dibuat peneliti harus sudah punya gambaran jawaban yang diharapkan. Artinya, perkiraan jawaban yang betul atau diinginkan harus dibuat peneliti.
5) Instrumen yang sudah dibuat sebaiknya diuji coba. Bertujuan untuk revisi instrumen, misalnya membuang instrumen yang tidak perlu, menggantinya dengan item yang baru, atau perbaikan isi dan redaksi atau tata bahasanya. Bagaimana uji coba validitas dan reliabilitasnya akan dibahas lebih lanjut.
Menurut Arikunto, penyusunan instrumen pengumpulan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi variabel-variabel dalam rumusan judul
2) Menjabarkan variabel tersebut menjadi sub variabel/dimensi
3) Mencari indikator/aspek dari setiap sub variabel
4) Menderetkan deskriptor dari setiap indikator
5) Merumuskan setiap deskriptor menjadi butir-butir instrumen
6) Melengkapi instrumen dengan petunjuk pengisian dan kata pengantar.

Langkah diatas dapat digambarkan secara skematis sebagai berikut:

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun instrumen penelitian, antara lain:
1) Masalah dan variabel yang diteliti termasuk indikator variabel, harus jelas spesifik sehingga dapat dengan mudah menetapkan jenis instrumen yang akan digunakan.
2) Sumber data atau sumber informasi, baik jumlah maupun keragamannyaharus diketahui terlebih dahulu, sebagai bahan atau dasar dalam menentukan isi, bahasa, sistematika item dalam instrumen penelitian.

Teknik dan Instrument Pengumpulan Data

N No. Jenis Teknik Jenis Instrumen
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Angket (questionnaire)

Wawancara (interview)

Pengamatan (observation)

Ujian atau tes (test)

Dokumentasi

Triangulasi
a. Angket (questionnaire)
b. Daftar Cocok (checklist)
c. Skala (skala)

a. Pedoman wawancara (interview guide)
b. Daftar cocok (checklist)

a. Lembar pengamatan
b. Panduan observasi
c. Daftar cocok (checklist)

a. Soal ujian (soal tes)
b. Inventori

a. Daftar dokumen

Disesuaikan dengan teknik pengumpulan datanya.

C. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
1. Validitas Instrumen
Sebelum peneliti menggunakan instrumen yang telah disusun untuk penggumpulan data, peneliti harus yakin bahwa instrumentnya adalah valid. Instrument yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Misalnya, meteran yang valid dapat digunakan untuk mengukur panjang dengan teliti, karena meteran merupakan alat untuk mengukur panjang. Meteran tersebut menjadi tidak valid jika digunakan untuk mengukur berat.
Makin tinggi validitas suatu instrument, makin baik instrument itu untuk digunakan. Ada beberapa cara pengujian validitas instrument yang akan digunakan untuk penelitian, yaitu:
a. Validitas Konstruksi (Construct Validity)
Untuk menguji validitas konstruksi, dapat digunakan pendapat dari para ahli atau mencari korelasi instrument dengan instrument lain yang telah diketahui validitasnya. Dalam hal ini setelah instrument dikonstruksikan tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu, maka selanjutnya dikonsultasikan dengan ahli.
Validitas Konstruksi lebih menekankan pada seberapa jauh instrument yang disusun itu terkait secara teoritis dalam mengukur konsep yang telah disusun oleh peneliti atau seberapa jauhkah konstruk atau trait psikologis itu diwakilkan secara nyata dalam instrument.
b. Validitas Isi (Content Validity)
Untuk instrument yang berbentuk test, pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrument dengan materi pelajaran yang telah diajarkan. Seorang dosen yang memberi ujian di luar pelajaran yang telah ditetapkan, berarti instrument ujian tersebut tidak mempunyai validitas isi. Untuk instrument yang akan mengukur efektivitas pelaksanaan program, maka pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrument dengan isi atau rancangan yang telah ditetapkan.
c. Validitas Eksternal
Validitas eksternal instrument diuji dengan cara membandingkan (untuk mencari kesamaan) antara kriteria yang ada pada instrument dengan fakta-fakta empiris yang terjadi di lapangan. Penelitian mempunyai validitas eksternal bila hasil penelitian dapat digeneralisasikan atau diterapkan pada sempel lain dalam populasi yang diteliti. Untuk meningkatkan validitas eksternal penelitian selain meningkatkan validitas eksternal instrument, maka dapat dilakukan dengan memperbesar jumlah sampel.
2. Reliabilitas Instrumen
Instrument yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.
Instrumen yang reliabel belum tentu valid. Misalnya, meteran yang putus dibagian ujungnya, bila digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang sama (reliabel) tetapi selalu tidak valid. Hal ini disebabkan karena instrumen (meteran) tersebut rusak.
Banyak faktor yang mempengaruhi reliabilitas instrumen, antara lain yaitu sebagai berikut:
a. Konstruksi butir (soal) yang tidak tepat, sehingga tidak dapat mempunyai daya pembeda yang kuat. Sering terjadi seorang murid yang mampu dalam kecakapan, tetapi karena konstruksi instrumen yang kurang tepat sehingga tidak dapat memberikan informasi yang benar.
b. Panjangnya suatu instrumen akan dapat menurunkan reliabilitas suatu instrumen. Instrumen yang panjang akan selalu membosankan, melelahkan, dan mengurangi perhatian. Akibat hal itu responden akan memberikan reaksi yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.
c. Penilaian yang subjektif pada waktu membuat scoring
Kelelahan dan kebosanan seorang peneliti dalam memberikan suatu instrumen atau pengadministrasian yang kurang tepat akan selalu memberikan pengaruh pada reliabilitas instrumen tersebut.
d. Ketidaktepatan waktu yang disediakan dalam menyelesaikan suatu instrumen.
e. Panjangnya instrumen yang dibeikan, makin panjang instrumen itu makin kurang telitilah dalam pengisiannya.
f. Penyebaran kelompok responden, makin besar perbedaan dalam suatu kelompok (umpamanya perbedaan umur) semakin baik hasilnya, demikian juga sebaliknya.
Pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan test-retest (stability), equivalent, dan gabungan keduanya. Secara internal reliabilitas instrumen dapat diuji dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen.
a. Test-retest
Instrumen penelitian yang reliabilitasnya diuji dengan test-retest dilakukan dengan cara mencobakan instrumen beberapa kali pada responden. Jadi, dalam hal ini instrumennya sama, dan waktunya yang berbeda. Reliabilitas diukur dari koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya. Bila koefisien korelasi positif dan signifikan maka instrumen tersebut sudah dinyatakan reliabel. Pengujian cara ini sering juga disebut stability.
b. Ekuivalen
Instrumen yang ekuivalenadalah pertanyaan yang secara bahasa berbeda, tetapi maksudnya sama. Sebagai contoh: Berapa tahun pengalaman kerja anda di lembaga ini? Pertanyaan tersebut dapat ekuivalen dengan pertanyaan berikut. Tahun berapa anda mulai bekerja di lembaga ini?
Pengujian reliabilitas instrumen dengan cara ini cukup dilakukan sekali, tetapi instrumennya dua, pada responden yang sama, waktu sama, instrumen berbeda. Reliabilitas instrumen dihitung dengan cara mengkorelasikan antara data instrumen yang satu dengan data instrumen yang dijadikan equivalent. Bila korelasi positif dan signifikan, instrumen dapat dinyatakan reliabel.
c. Gabungan
Pengujian reliabilitas ini dilakukan dengan cara mencobakan dua instrumen yang equivalent itu beberapa kali, ke responden yang sama. Jadi cara ini merupakan gabungan pertama dan kedua. Reliabilitas instrumen dilakukan dengan mengkorelasikan dua instrumen, setelah itu dikorelasikan pada pengujian kedua, dan selanjutnya dikorelasikan secara silang.
d. Internal Consistency
Pengujian reliabilitas dengan internal consistency, dilakukan dengan cara mencobakan instrumen sekali saja, kemudian data yang diperoleh dianalisis. Hasil analisis tersebut dapat digunakan untuk memprediksi reliabilitas instrumen.

D. Skala Pengukuran
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur sehingga alat ukur tersebut bisa digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Misal timbangan emas sebagai instrumen untuk mengukur berat emas, meteran sebagai instrumen untuk mengukur panjang dibuat dengan skala mm.
Macam-macam skala pengukuran yakni:
1. Skala nominal
Skala pengukuran nominal digunakan untuk mengklasifikasi objek, individual atau kelompok, sebagai contoh mengklasifikasi jenis kelamin, agama, pekerjaan dan area geografis.
2. Skala ordinal
Skala pengukuran ordinal memberikan informasi tentang jumlah relatif karakteristik berbeda yang dimiliki oleh objek atau individu tertentu. Tingkat pengukuran ini mempunyai informasi skala nominal ditambah dengan sarana peringkat relatif tertentu yang memberikan informasi apakah suatu objek memiliki karakteristik yang lebih atau kurang tetapi bukan berapa banyak kekurangan dan kelebihannya.
3. Skala interval
Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan skala ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa adanya interval yang tetap. Dengan demikian peneliti dapat melihat besarnya perbedaan karakteristik antara satu individu atau objek dengan lainnya. Skala pengukuran interval benar-benar merupakan angka.
4. Skala rasio
Skala pengukuran rasio mempunyai semua karakteristik yang dipunyai oleh skala nominal, skala ordinal dan skala interval. Dengan kelebihan skala ini mempunyai nilai nol empiris absolut. Nilai absolut nol tersebut terjadi pada saat ketidakhadirannya suatu karakteristik yang sedang diukur.
Perkembangan ilmu sosiologi dan psikologi, maka instrumen penelitian akan lebih menekankan pada pengukuran sikap yang menggunakan skala sikap. Adapun bentuk-bentuk skala sikap yang perlu diketahui dalam melakukan penelitian ada 5 macam yakni:
1. Skala likert
Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial.
Dengan menggunakan skala likert, maka variable yang akan diukur dijabarkan menjadi dimensi, dimensi dijabarkan sebagai sub variabel kemudian sub variabel dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator yang dapat diukur. Akhirnya indikator-indikator yang terukur ini dapat dijadikan titk tolak untuk membuat item instrumen yang berupa pertanyaan atau pernyataan yang perlu dijawab oleh responden.
2. Skala guttman
Skala guttman merupakan skala komulatif. Jika seseorang menyisakan pertanyaan yang berbobot lebih berat, ia akan mengiyakan pertanyaan yang kurang berbobot lainnya. Skala guttman mengukur suatu dimensi saja dari suatu variabel yang multidimensi. Pada skala guttman terdapat beberapa pertanyaan yang diurutkan secara hierarkis untuk melihat sikap tertentu seseorang.
Skala guttman ialah skala yang digunakan untuk jawaban yang bersifat jelas (tegas) dan konsisten.
3. Skala differensial semantik
Skala differensial semantik berisikan serangkaian karakterister bipoler (dua kutub) seperti panas-dingin.
Selain itu pada skala perbedaan semantik, responden diminta untuk menjawab atau memberikan penilaian terhadap suatu konsep atau onjek tertentu. Skala ini menunjukkan suatu keadaan yang saling bertentangan.
4. Skala rating scale
Rating scale yaitu kata mentah yang didapat berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Dalam model rating scale responden tidak akan menjawab dari data kualitatif yang sudah tersedia tersebut, tetapi menjawab salah satu dari jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Dengan demikian bentuk rating scale lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja, tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap gejala atau fenomena lainnya.
Pembuatan dan penyusunan instrumen dengan menggunakan rating scale yang penting harus dapat mengartikan atau mentafsirkan setiap angka yang diberikan dalam alternatif jawaban pada setiap item instrumen.
5. Skala thurstone
Skala thurstone meminta responden untuk memilih pertanyaan yang ia setujui dari beberapa pernyataan yang menyajikan pandangan yang berbeda-beda.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Pengumpulan data adalah proses, cara, perbuatan mengumpulkan, atau menghimpun data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Teknik pengumpulan data merupakan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Secara umumnya, dalam pengumpulan data dapat menggunakan beberapa teknik, antara lain yaitu: Observasi, wawancara, angket, dokumen, triangulasi dan test.
Instrumen penelitian merupakan alat bantu peneliti dalam pengumpulan data. Mutu instrumen akan menentukan juga mutu daripada data yang dikumpulkan, sehingga tepatlah dikatakan bahwa hubungan instrumen dengan data adalah sebagai jantungnya penelitian yang saling terkait. Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur sehingga alat ukur tersebut bisa digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.
B. Saran-saran
Penulis menyadari akan banyaknya kekurangan dalam makalah ini, baik dari ejaan tulisan, tata kalimat, tata bahasa maupun yang lainnya. Tetapi setidaknya penulis telah berusaha menguraikan maksud dari “Teknik Pengumpulan Data, Instrumen Penelitian dan Skala Pengukuran”. Oleh karena, itu banyaknya kekurangan dalam makalah ini, penulis mengharapkan adanya wujud apresiasi pembaca untuk memberikan koreksi dan masukan agar penulis mampu memperbaikinya, Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Nasution, S. 2012. Metode Research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: PT Bumi Aksara.
Noor, Juliansyah. 2011. Metodologi Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi, dan Karya Ilmiah. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
Riduwan. 2013. Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian. Bandung: Cv. Alfabeta.
Sarwono, Jonathan. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Subana, M dan Sudrajat. 2011. Dasar-dasar Penelitian Ilmiah. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Tanzeh, Ahmad. 2011. Metodologi Penelitian Praktis. Yogyakarta: Teras.
Yusuf, Muri. 2014. Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan. Jakarta: Prenadamedia Group.
Zuriah, Nurul. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Posted on Updated on

TUJUAN PENDIDIKAN

Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Ilmu Pendidikan
Dosen Pengampu : Abdul Khobir, M.Ag

Disusun oleh:
1. Ati Utami (2021113205)
2. Nur Fuaidah (2021113206)
3. Umi Fatkhurohmah (2021113211)
4. Anik Mufidah (2021113212)

TARBIYAH PAI F
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setiap langkah tujuan manusia tentunya disertai dengan tujuan, begitu halnya dengan dunia pendidikan, karena tujuan pendidikan sangat penting dalam menentukan arah yang hendak dicapai atau ditempuh dalam masyarakat tertentu. Sebab tanpa perumusan yang jelas tentang tujuan pendidikan, proses pendidikan menjadi acak-acakan, tanpa arah, bahkan bisa sesat atau salah langkah.
Sehubungan dengan hal tersebut, pendidikan islam harus menyadari betul atau sebenarnya yang ingin dicapai dalam proses pendidikan.

B. Rumusan Masalah
Dalam uraian diatas, penulis merumuskan masalah secara rinci sebagai berikut:
1. Apa pengertian pendidikan islam?
2. Apa pengertian tujuan pendidikan?
3. Bagaimana kedudukan tujuan pendidikan islam?
4. Apa tujuan pendidikan islam?
5. Apa saja aspek-aspek pendidikan islam?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian pendidikan islam
 Menurut Drs. Ahmad D. Marimba
Pendidikan islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran islam.
 Menurut Drs. Burlian somad
Suatu pendidikan dinamakan pendidikan islam, jika pendidikan itu bertujuan membentuk individu menjadi bercorak berderajat tertinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikan untuk mewujudkan tujuan itu adalah ajaran Allah.
 Menurut Drs. Usman said
Pendidikan agama islam ialah segala usaha untuk terbentuknya atau membimbing rohani jasmani seseorang menurut ajaran islam.
 Menurut Drs. Abd. Rahman shaleh
Pendidikan agama islam ialah segala usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak dan sesuai dengan ajaran islam.

B. Pengertian tujuan pendidikan
Dilihat dari segi kebahasaan, kata tujuan berakar dari dasar tuju yang berarti arah atau jurusan. Maka, tujuan berarti maksud, sasaran atau dapat juga berarti sesuatu yang hendak di capai.
Sedangkan tujuan secara istilah adalah batas akhir yang di cita-citakan seseorang dan dijadikan pusat perhatiannya untuk dicapai melalui usaha.
Jadi tujuan pendidikan secara luas adalah perubahan yang di inginkan yang diusahakan oleh proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan pada kehidupan pribadinya, atau pada kehidupan masyarakat dan alam sekitar tempat individu itu hidup, atau pada proses pendidikan dan pengajaran, sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi diantara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.
Berdasarkan uraian diatas, dapat di ambil suatu kesimpulan, bahwa yang dimaksud dengan tujuan pendidikan ialah hasil akhir yang di inginkan atau yang ingin di capai melalui proses pendidikan.

C. Kedudukan Tujuan Pendidikan
Merumuskan tujuan pendidikan merupakan sarat mutlak untuk mendefinisikan pendidikan itu sendiri yang paling tidak di dasarkan atas konsep dasar mengenai manusia, alam, dan ilmu serta dengan pertimbangan prinsip-prinsip dasarnya. Hal tersebut disebabkan pendidikan adalah upaya yang paling utama, bahkan salah satunya untuk membentuk manusia menurut apa yang dikehendakinya. Oleh karena itu, menurut para ahli pendidikan, tujuan pendidikan pada hakikatnya merupakan rumusan-rumusan dari berbagai harapan ataupun keyakinan manusia.
Tujuan pendidikan mempunyai kedudukan yang amat penting. Menurut Ahmad D. Marimba ada empat fungsi tujuan pendidikan, yaitu tujuan berfungsi mengakhiri usaha, tujuan berfungi mengarahkan usaha, tujuan berfungsi titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain yaitu tujuan-tujuan baru maupun tujuan-tujuan lanjutan dari tujuan pertama, tujuan memberi nilai pada sifat pada usaha itu.

D. Tujuan Pendidikan Islam
Perumusan tujuan pendidikan islam harus berorientasi pada hakikat pendidikan yang meliputi beberapa aspek. Pertama, tujuan dan tugas hidup manusia, bahwa manusia hidup bukan karena kebetulan dan sia-sia. Ia diciptakan dengan membawa tujuan dan tugas hidup tertentu. Kedua, memperhatikan sifat-sifat dasar manusia yaitu konsep tentang manusia sebagai makhluk unik yang mempunyai beberapa potensi bawaan seperti fitrah, bakat, minat, sifat dan karakter. ketiga, tuntutan masyarakat. Keempat, dimensi-dimensi kehidupan ideal islam.(mujib)
Menurut Hasan Langgulung, bahwa tujuan pendidikan islam harus mampu mengakomodasikan tiga fungsi utama dari agama, antara lain:
1) Fungsi spiritual yaitu berkaitan dengan akidah dan iman
2) Fungsi sikologis yaitu berkaitan dengan tingkah laku individu
3) Fungsi sosial yaitu berkaitan dengan aturan-aturan yang menghubungkan manusia dengan manusia lain atau masyarakat.
Ada beberapa tujuan pendidikan islam:
• Tujuan Umum
Tujuan umum ialah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara lain. Tujuan umum itu tidak dapat dicapai kecuali setelah melalui proses pengajaran, pengalaman, pembiasaan, penghayatan dan keyakinan akan kebenarannya.
• Tujuan akhir
Pendidikan islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir pula. Mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah sebagai muslim yang merupakan ujung dari taqwa sebagai akhir dari proses hidup jelas berisi kegiatan pendidikan. Inilah akhir dari proses pendidikan itu yang dapat dianggap sebagai tujuan akhirnya.
• Tujuan sementara
Sejak dari tujuan pendidikan tingkat permulaan, bentuk pola taqwa sudah kelihatan meskipun dalam ukuran sederhana. Disinilah perbedaan yang mendasar bentuk tujuan pendidikan islam dibandingkan dengan pendidika lainnya.
• Tujuan operasional
Tujuan operasional ialah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Pada masa permulaan yang penting ialah anak didik mampu dan terampil berbuat, baik perbuatan itu perbuatan ucapan ataupun perbuatan anggota badan lainnya.
Sutari Imam barnadib dengan merangkum pendapat Langeveld, membedakan enam tujuan pendidikan, yakni:
1. Tujuan umum
Ialah tujuan yang akan dicapai diakhir proses pendidikan, yaitu tercapainya kedewasaan jasmani dan ruhani anak didik.
2. Tujuan khusus
Ialah pengkhususan tujuan umum atas dasar usia, jenis kelamin, sifat, bakat, intelegensi, sosial-budaya, dan sebagainya.
3. Tujuan tidak lengkap
Ialah tujuan yang menyangkut sebagian aspek manusia (psikologis, biologis)
4. Tujuan sementara
Ketika tujuan sementara berhasil dicapai, tujuan itu akan ditinggalkan dan diganti dengan tujuan lain.
5. Tujuan intermediet
Ialah tujuan perantara bagi tujuan lainnya yang pokok dengan cara pembiasaan.
6. Tujuan insidental
Ialah tujuan yang dicapai pada saat-saat tertentu, yang sifatnya seketika dan spontan.
E. Aspek-aspek Tujuan Pendidikan
Aspek tujuan pendidikan islam meliputi empat hal yaitu:
1) Tujuan Jasmaniah
Tujuan pendidikan perlu dikaitkan dengan tugas manusia selaku khalifah dimuka bumi yang harus memiliki kemampuan jasmani yang bagus disamping rohani yang teguh.
Jadi tujuan pendidikan islam adalah untuk membentuk manusia muslim yang sehat dan kuat jasmaninya serta memiliki ketrampilan yang tinggi.
2) Tujuan Rohaniah
Tujuan ini dikaitkan dengan kemampuan manusia menerima agama islam yang inti ajarannya adalah keimanan dan ketaatan kepada Allah dengan tunduk dan patuh kepada nilai-nilai moralitas yang diajarkan-Nya dengan mengikuti keteladanan Rasulullah SAW, inilah tujuan rohaniah pendidikan islam.
Tujuan pendidikan rohaniah menurut Muhammad Qutb yaitu mengandung pengertian “ruh” yang merupakan mata rantai pokok yang menghubungkan antara manusia dengan Allah, dan pendidikan islam harus bertujuan untuk membimbing manusia sedemikian rupa sehingga ia selalu tetap berada didalam hubungan dengan-Nya.
3) Tujuan Akal
Aspek tujuan ini bertumpu pada pengembangan intelegensia (kecerdasan) yang berada dalam otak. Sehingga mampu memahami dan menganalisis fenomena-fenomena ciptaan Allah di jagad raya ini.
4) Tujuan Sosial
Tujuan sosial ini merupakan pembentukan kepribaddian yang utuh dari roh, tubuhdan akal. Dimana identitas individu disini tercermin sebagai manusia yang hidup pada masyarakat yang plural (majemuk). Tujuan pendidikan sosial ini penting artinya karena manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi seyogyanya mempunyai kepribadian yang utama dan seimbang. Yang karenanya tidak mungkin manusia menjauhkan diri dari kehidupan bermasyaratkat.

BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN
Tujuan ialah suatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai. Maka pendidikan, karena merupakan suatu usaha dan kegiatan berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan, tujuannya bertahap dan bertingkat. Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang berbentuk tetap dan statis, tetapi ia merupakan suatu keseluruhan dari kepribadian seseorang, berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya.
Kalau kita melihat kembali pengertian pendidikan islam, akan terlihat dengan jelas sesuatu yang diharapkan terwujud setelah orang mengalami pendidikan islam secara keseluruhan, yaitu kepribadiaan seseorang yang membuatnya menjadi “insan kamil” dengan pola taqwa. Insan kamil artinya manusia utuh rohani dan jasmani, dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena taqwanya kepada Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati. 1991. Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Rineka

Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan. 2012. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Jogjakarta: Arruz Media

Abdul Mujib. 2006.Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana

Zakiah Daradjat. 1996. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

Wiji Suwarno. 2006. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jogjakarta: Ar ruzz

Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia

Posted on

MEROKOK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
Disusun guna memenuhi tugas kelompok:
Mata kuliah: Masa’il fiqhiyah
Dosen pengampu: Dr. Makrum Kholil, M. Ag

Disusun oleh:
NUR FUAIDAH (202 111 3206)

Kelas: PAI F
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015
PENDAHULUAN
a. Latar belakang
Rokok, siapa yang tidak kenal dengan benda satu ini. Rokok memang merupakan salah satu fenomena sosial yang cukup cukup unik. Dalam kehidupan masyarakat rokot telah menyatu dalam kehidupan sebagian manusia. Baik orang awam, kaum intelak, miskin atau kaya, pedesaan atau kota, bahkan pria atau wanita. Mereka sanggup untuk tidak makan berjam-jam, tetapi pusing jika berjam-jam tidak merokok. Mengaku tidak punya uang untuk bayar sekolah tetapi selalu ada uang untuk membeli rokok. Meski sudah tahu bahwa rokok mengancam kesehatan tetapi masih tetap saja rokok mendapat dukungan yang besar terutama dari kalangan perokok sendiri. Para perokok bukan tidak tahu dampak dari merokok bahkan seharusnya mereka yang paling tahu karena pada setiap bungkus telah tertulis dengan jelas dampak merokok.
Para perokok beragumen bahwa merokok dapat merangsang imajinasi kreatif, ada pula yang mengatakan bahwa merokok dapat menenangkan. Meski tidak sedikit yang mengatakan bahwa merokok merupakan perbuatan yang sia-sia.
b. Rumusan masalah
Bagaimana sejarah adanya rokok?
Apa faktor-faktor yang menyebabkan ora merokok?
bagaimana pendapat para ulama tentang hukum merokok?

PEMBAHASAN
A. Sejarah rokok
Tidak ada yang menyebutkan sejarah rokok secara pasti, salah satu versi yang mengatakan bahwa rokok pertama kali ditemukan di Amerika. Setelah Amerika merdeka maka banyak bangsa Eropa yang berkunjung. Tujuan semula untuk melihat perkembangan masyarakat Amerika. Keunikan gaya hidup masyarakat Amerika tampaknya mengundang simpatik yang begitu besar bagi pengunjung dari Eropa tersebu, termasuk dalam hal merokok.
Hingga akhirnya lambat laun bangsa-bangsa Eropa mulai mengadopsinya. Maka setelah mereka kembali ke negara masing-masing mereka membaawa bibit-bibit tembakau. Eksportir bibit-bibit tembakau kedaratan Eropa mulai berlangsung pada tahun 1518 M/ 935 H.
Menurut Abdullah bin Abdurrahman as Sanad dalam bukunya Nashihah al-insan ala isti’mal ad-Dukhan, rokok dikenal oleh bangsa Eropa sekitar tahun 915 H atau 1518 M, ketika sekelompok pakar mereka menemukan tumbuhan “aneh” di Toboko (Meksiko). Benihnya mereka bawa pulang dan dari sana tersebar ke daerah-daerah lain, termasuk ke wilayah negeri-negeri Islam. Itu sebabnya tidak ditemukan pendapat ulama masa lalu tentang hukum merokok.
B. Penyebab orang merokok
Berdasarkan penelitian Universitas Malik Saud didapat bahwa sebab-sebab orang yang merokok sebagai berikut:
1. Anak yang mencontoh seorang ayah yang merokok, dan diperbolehkannya perbuatannya oleh orang tuanya
2. Ingin mendapat pengakuan dari orang sekitar, biasanya anak yang baru memulai merokok akan merasa bangga karena sudah dianggap dewasa
3. Bergaul dengan orang-orang yang merokok, terutama pada anak-anak yang menjelang dewasa
4. Tidak adanya pemahaman yang cukup tentang bahaya dari merokok
5. Rasa gelisah dan gundah yang diiringi dengan kekosongan rohani serta waktu luang
C. Hukum merokok
Menurut Yusuf Qardhawi dalam bukunya, memberikan fatwa haramnya hukum merokok. Pendapat ini banyak diikuti oleh para ulama termasuk ustad Umar Thalib. Dalam salah satu tulisannya di majalah khasanah tembakau merukapan unsur utama pembuatan rokok yang telah dikenal oleh umat islam pada akhir abad ke 10 H yang dibawa oleh para pedagang spanyol. Semenjak itulah kaum muslimin mulai mengenal rokok. Berdasarkan ayat Al quran yang artinya “Allah yang menghalalkan yang baik-baik (thayyibah) dan mengharamkan yang jelek-jelek (khabaits).
Unsur al khabaits itu, oleh mereka yang mengharamkan rokok diakibatkan bukan cuma oleh faktor materialnya saja tetapi juga oleh faktor-faktor lain yang menjadikan khabaits. Qardhawi melihat bahwa rokok selain dapat merusak kesehatan juga dapat mesukan kantung. Lebih jauh lagi diartikan sebagai tindakan penghambur-hamburan harta (mubazir). Berdasarkan QS al Isra ayat 27 berikut:
•          
Artinya: “sesungguhnya pemborosan itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada tuhannya”
QS al Baqarah ayat 195
            •    
Artinya: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
QS an Nisa ayat 29
                    •     
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
Diantara ulama yang mengharamkan dan melarang merokok ialah Syekhul islam ahmad as sanhuri al bahuti al hambali, kemudian dari kalangan madzab maliki (Ibrahim al laqqani, Ibrahim bin jam’an, Al muhaqqiq abdul malik al ishami)
Menurut para ulama merokok tidak diharamkan paling jauh menurut mereka merokok itu makruh kalau tidak bisa dikatakan mubah. Alasannya rokok hanya berbahaya jika dihisap berlebihan. Mereka menyamkan rokok dengan bawang, petai, jengkol, dan sejenisnya. Ia menjadi khabaits hanya pada saat-saat tertentu, seperti malakukannya di Masjid dan keramaian orang. Selain itu hukumnya makruh atau mubah.
Menurut para ulama telah sepakat bahwa segala yang menbahayakan akal atau badan hukumnya haram. Dan mengetahui bahaya rokok bukan lewat ahli fiqh tetapi lewat para dokter. Menurut para dokter rokok itu harus dihindari karena merupakan sebab utama beberapa penyakit. Dalam hal ini menurutnya harus dituruti karena kedudukan mereka sama dengan para fuqaha.

PENUTUP

Kesimpulan
Pada asalnya segala sesuatu itu boleh, kecuali ada nash syara yang mengharamkannya. Allah tidak menyatakan memberi kenikmatan kepada mereka dengan sesuatu yang diharamkan. Adapun sesuatu yang membahayakan (menimbulkan mudharat), baik mudharat pada badan maupun jiwa atau kedua-duanya maka pada dasarnya hukumnya terlarang dan haram.
Sedangkan pada rokok terdapat semacam dharar yang tidak boleh dilupakan dan sudah tidak diragukan lagi: dharar mali (bahaya pada keuangan) karena termasuk menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya, baik untuk urusan dunia maupun akhirat (agama). Apalagi harga rokok demikian mahal sehingga ada diantara mereka demi memenuhi ambisi merokok yang berlebihan yang tidak keberatan membelanjakan uangnya dalam jumlah yang besar yang cukup untuk menghidupi keluarganya.
Adapun jika ada sebagian orang yang merasa mendapatkan ketenangan karena merokok, maka hal ini bukanlah termasuk manfaat rokok tetapi hanya karena ia telah terbiasa merokok dan kecanduan.

DAFTAR ISI

Yunus, Muhammad BS. 2009. Kitab Rokok: Nikmat dan Mudhorot yang menghalalkan atau yang mengharamkan. Yogyakarta: Kutub.

M. Shihab, Quraish. 2010. Soal keislaman yang patut anda ketahui. Tangerang: Lentera Hati.
http//faktor-faktor penyebab orang merokok diakses tanggal 3 April 2015 jam 20.00
Assyaukanie, Luthfi. 1998. Politik, HAM, dan isu-isu teknologi dalam fiqh kontemporer. Bandung: Dzu al Qa’dah.
Qardhawi, Yusuf. 2001. Fatwa-fatwa kontemporer jilid II. Jakarta: Gema Insani Press.